September 13th, 2007 by annarnellis

Setelah ikut Siaware 12, mata dan hati yang semula sudah lumayan terbuka, jadi makin terbuka lagi. Saya jadi lebih tahu apa target berikut yang harus saya kejar. Percaya diri yang besar muncul untuk dunia kerja dan keluarga. Tapi cinta (halah!) masih juga merasa merana.

Saya jatuh cinta pada daun teh. Sayang, dia masih terlalu layu untuk dipetik. Hhh… susah bicara jadinya.

Sudahlah, lihat nanti saja.

July 22nd, 2007 by annarnellis

sahabat datang dan pergi
kadang mengkhianati
begitu pun rasa cinta
kadang mengecewakan

kita punya harga diri
kadang terpendam di hati
kita punya hati nurani
kadang tertimbun mati

kutertawa walau hati kecewa
kubernyanyi walau hati menangis

(Slank - H.A.M. burger)

Dari konser Slank di Depok:Its trully so sweet, not co cwiit!

June 24th, 2007 by annarnellis


Ada yang beda dari konser Slank yang kemarin gue datangi. Ada nuansa kekeluargaan yang menarik di sana. Meskipun rasa kekeluargaan itu tetap gak didapat secara keseluruhan, sedikit manisnya rasa keluarga itu muncul lewat cara yang gak biasa gue temui.

Konser Slank kemarin adalah rangkaian promo album terbaru mereka, Slow But Sure. Gue lupa, apa gue pernah mendatangi konser promo album mereka sebelumnya. Jadi, gue baru tau bahwa ternyata konser promo album ya seperti itu. Ya, mereka jelas membawakan sejumlah lagu baru dari album yang sedang dipromosikan. Selebihnya, mereka membawakan lagu lama yang dianggap cukup sesuai tema atau lagu yang emang booming banget untuk Slank. Dan untuk promo album ini, mereka terlihat sekali berusaha fokus di masalah lingkungan hidup. Ya, seperti lagu “Lapindo” yang berusaha memperlihatkan kepedulian mereka akan bencana lumpur panas di Sidoarjo. Yah, meskipun rasa-rasanya kepedulian mereka agak memaksakan. Tapi, jelas sekali mereka berusaha untuk memfokuskan diri pada masalah lingkungan. Misalnya, seperti yang ditunjukkan lewat layar besar di samping panggung yang memperlihatkan rekaman mereka bergulat di tengah sawah.

Sekadar iseng-iseng nih, kayaknya sponsor mereka juga memperlihatkan kecocokan dengan tema lingkungan yang mereka bawa. Di album ini Slank bergandengan dengan Minak Djinggo, yang kata kawan2 gue, itu adalah rokok jagung, rokok ndeso. Yah, tembakau atau jagung apa yang mereka maksud itu, rasanya membuat nuansa ndeso itu jadi muncul. Hehe, iseng banget ya mencocok2kan Minak Djinggo dengan ndeso? Bukan gitu, yang jelas terlihat sih, Minak Djinggo tampak ingin mengubah image produk mereka dengan mensponsori Slank yang komunitasnya anak muda. Seperti yang kebanyakan ada di benak anak2 muda, Minak Djinggo itu rokoknya orang tua. Bahkan, bokap gue yang tua gitu aja bilang Minak Djinggo itu rokoknya kakek2. He2… Dan yang gue lihat semalam itu benar adanya. Mereka dapat rokok kretek Djinggo gratis, barter sih sama sobekan kertas tiket. Namun, anak2 muda itu umumnya malas menghisap rokok itu. Gue sih gak tau apa beda rasa kretek sama filter yang dijadikan benteng alasan mereka kenapa gak mau menghisap kretek. Akhirnya, mereka lebih memilih untuk membarter rokok yang mereka dapat dengan air mineral. Satu bungkus Djinggo 4750 rupiah ditukar satu botol aqua 2000 rupiah. Kata mereka, lumayan.

Tapi, suasana ndeso yang katanya muncul lewat kretek itu, jelas gak muncul lewat lagu baru Slank lainnya. Dari lagu “My Scooter Love”, misalnya. Lagu itu ada untuk menggambarkan kegemaran baru anak2 Slank, Kaka khususnya. Seperti yang sering mereka tampilkan sendiri, mereka lagi seneng main skuter2an atau vespa2an. Hobi yang gak murah. Hobi senang2 memenuhi kebutuhan tersier. Jelas ini sangat tidak ndeso seperti yang ada di bayangan orang awam bahwa ndeso itu penuh kesederhanaan. Vespa biru Kaka juga muncul di panggung malam itu. Sayang kuping gue kurang awas. Suara ngegas yang dipakai untuk efek lagu “My Scooter Love” itu muncul asli dari vespa itu atau cuma rekaman. Gue sih curiga itu cuma rekaman karena di beberapa sesi break, mereka juga cuma memutar rekaman lagu aja.

Ini mungkin cerita biasa buat orang2 yang sering datang ke konser Slank. Buat gue sendiri, hmm, ini sih agak gak biasa. Menurut gue, mereka gak tampil maksimal. Entah ya, apa mungkin untuk konser promo memang hanya seperti ini yang bisa mereka kasih. Berita dari tentara penjaga yang bilang Slank akan bawain 23 lagu ternyata hanya jadi gosip belaka. Mereka cuma bawakan sekitar 10 lagu aja nyatanya.

Gak maksimal itu juga diperlihatkan dari minimnya dekor. Gue gak tau siapa yang seharusnya mengurus ini. Kalau ternyata yang menyiapkan segala keperluan panggung adalah tuan rumah, Yonif 201 Jaktim, gue maklum deh. Setau gue, markas tentara ini jarang (atau belum pernah) dijadikan tempat konser, apalagi sekelas Slank. Dan hasilnya terlihat juga. Pencahayaan minim. Lampu besar utama hanya ada tiga biji aja di sisi kanan panggung. Setau gue, seharusnya minimal ada enam, ditaruh di kiri kanan panggung. Apalagi untuk lapangan yang dilingkungi pepohonan seperti itu, lampu yang dipasang jadi sangat kurang. Dekor dari penyelenggara pun gak heboh. Hanya ada sejumlah spanduk atau logo2 Minak Djinggo. Lalu, di tengah2 konser, turun layar bergambar pohon seperti sampul album Slank baru itu. Thats all.

Yah, untung gue pemaklum. He2. Untung juga Slank gak sombong untuk menetapkan standar fasilitas yang sangat rinci. Kalau seperti itu, kasian bapak komandan Yonif 201. Denger2, dia punya niat baik untuk kasih hiburan buat warga situ.Yap, warga 201 itu. Jadi, mungkin niat itu yang mendorong dia untuk langsung menawarkan tempatnya untuk dijadikan tempat konser Slank yang lagi promosi album baru.

Secara keseluruhan sih, (meminjam istilah kawan gue) dilihat secara holistik aja nih, tentara 201 masih lebih baik daripada tentara Brimob. Ha3. Untung gue pemaklum. Maklumlah mereka lebih baik sama anak2 Slank karena kayaknya mereka jarang ketemuan sama Slankers yang kacrut. Beda dengan Brimob yang udah sering banget gaul bareng Slankers di sekitar Jakarta. Jadi, aparat Brimob lebih akrablah sama Slankers. Tapi, tentara 201 ini tentu udah banyak denger juga bahwa konser Slank sering rusuh. Makanya mereka bertindak preventif banget. Bapak Kapten yang gue temui bilang, dia nurunin 400 personel buat konser ini. Tentara2 ini siap siaga dari depan jalan raya Bogor sampai pintu masuk di dalam. Barikadenya tiga lapis. Tumpukan ban2 mobil dan pagar seng dipasang mengelilingi lingkungan lapangan tembak yang aslinya terbuka itu. Langkah2 selanjutnya gak jauh beda dengan yang dilakukan aparat polisi biasa. Mereka menyita botol air mineral, yah, karena takut buat timpuk2an nanti di lapangan. Mereka juga menyita bambu atau tongkat yang dipakai untuk tiang2 bendera Slankers. Mereka menyuruh cowo2 mengangkat bajunya, siapa tau ada yang bawa senjata. Nah, saat itulah, mereka juga menyita ikat pinggang yang dipakai semua orang yang masuk ke arena. Tentu ikat pinggang para tentara itu gak ikutan dilepas. Kasian, nanti gak ada yang menahan turunnya laju celana di perut sebagian dari mereka yang udah membuncit. Lagian, mana mau mereka sama seperti anak2 Slankers itu, yang ikat pinggang keren, mahal, dan gaulnya, berakhir hilang lenyap tak berbekas atau tersebar tergeletak tak bertuan di rerumputan tanpa penerangan.

Yah, lagi2, gue maklum akan semua itu. Gue paham banget, bapak komandan tentu gak ingin ada ribut2 di lingkungannya. Wong dia itu kan mau kasih hiburan ke warganya, bukan mau kasih rusuh2 kok. Ingat, hiburan! Nah, di sini menariknya. Warga 201 itu terdiri dari tentara, dan keluarganya tentu. Ya, tentu. Tapi, buat gue, tampak tidak lazim di mata gue ketika ada yang berpiknik ria di tengah lapangan konser itu! Ya, ada sejumlah kelompok ibu2 dengan anak2 kecil umur 5—10 tahunan makan nasi bungkus di bawah penerangan lampu handphone mereka. Mereka makan nasi bungkus pake mi dan ayam goreng. Anak2 kecil itu makan mi dengan lahap sementara ibunya mencomot ayam sambil menyorotkan sinar hp ke bekal piknik mereka. Wahh, serunyaaa!

Di lain sisi, banyak pemandangan bapak tentara ditemani istrinya menggandeng jagoan cilik atau menggendong putri manis mereka. Sang istri yang memegang minuman segar berwarna merah tersenyum. Lalu, si bocah merengek manja mengajak ayahnya menuju kerumunan dekat panggung. Lalu, ayah yang berpakaian loreng dan menyandang senjata itu berkata, “Di sini aja, ya. Bapak kan lagi jaga, Sayang…”

Oohh, thats so sweet… Im serious, its trully so sweet, not co cwiit!

U know what I mean, ha? Man, human, humanity…

Well,thats explain all…Thats all…

What should I say again? Im speechless…

harap

May 5th, 2007 by annarnellis

Mengharap,
berharap, diharap, harap-harap…


Hari
lahir tahun ini penuh harapan, seperti harapan di tahun-tahun
sebelumnya. Ah, tampaknya tidak juga. Sebab nyatanya banyak harapan
yang berbeda, yang lebih luar biasa.


Pagi
hari 4 mei, aku diberi hadiah terindah oleh Tuhan. Demam dan pening
yang lumayan membuat badan lemah bergerak. Tentu sakit bukanlah
hadiah yang kuharapkan. Doa yang sering terucap pertama saat ulang
tahun adalah semoga sehat selalu, bukan? Dan pagi itu aku diberi
sakit. Tapi akhirnya sakit itu kuanggap hadiah yang terindah sebab
pagi itu aku ditampar Tuhan untuk kembali mengingat keberadaan.
Mengingat berjuta kesalahan yang sudah kulakukan setahun belakangan.
Mengingat kemalasan yang membuatku tak bergerak mencapai kemajuan.
Mengingat orangtua yang seringkali kusia-siakan. Tamparan hebat di
pagi hari, membuat sadar hinanya diri!


Seorang
kawan berkata: Hadiah terindah tidak terduga ujudnya. Apakah yang
kita harapkan atau tidak. Jadi, tenang saja. Ada saatnya untuk yang
tepat. Lekas sembuh. Selamat ulang tahun.


Sesiang
itu aku di rumah saja, ditemani kedua orang tua yang tersenyum
sepanjang hari. Yang tidak menciumi anaknya, tetapi mensyukuri hari
untuk anaknya. Membuatku tertawa. Menenangkanku yang berharap kakak
segera pulang untuk melengkapi hari itu.


Sesiang
itu aku juga membacai sms. Yang mencari-cariku di kampus, yang hilang
di hari itu. Juga yang mengucapkan banyak doa, dan banyak harapan.
Menyenangkan sekali. Mendapat banyak doa yang bahkan aku pun tak
terpikir untuk berharap itu.


Seorang
kawan berkata: Teguk saja madu kebahagiaan hari ini, walau tidak
dipungkiri, makin kita beranjak dari umur yang awalnya berangka satu,
kita makin tidak merasakan lagi euforia hari lahir. Wajar sekali.
Sudah, tidak perlu sulit, pejamkan mata saja, rasakan Cinta dan rasa
peduli yang begitu harum menguar di sekelilingmu.


Begitu
saja seharian. Hingga malam. Hingga mata ingin segera terpejam.


Seorang
kawan berkata: Kita semakin dekat dengan kematian. Jangan sedih.
Jadikan kematianmu nanti sebagai kematian yang indah.


Rasanya
lelah juga menjalani hidup. Ingin rasanya segera mencapai kematian,
tapi bekal pun belum ada. Ingin rasanya tertidur sejenak, supaya
‘Billy’ bisa istirahat dan digantikan kepribadian kawan-kawan
lainnya.


Seorang
kawan berkata: Niatnya pengen jadi closing hari istimewa lo. Tapi
rupanya lo udah meng-close seluler dan mata lo. Happy bday, siz! Hope
u’ll get d best think u want. Agak luv u. ;p


Aku
sudah menduga kawanku ini akan menutup sms hari itu. Tapi rasanya ada
sesuatu yang hilang. Ternyata sedih sekali saat menyadari ada
seseorang yang aku harapkan untuk meramaikan hari itu, tetapi
ternyata ia tidak muncul. Padahal orang inilah yang diharapkan ada di
hari itu. Dan nyatanya, hingga hari ini, dia tidak juga muncul.
Menyakitkan rasanya, tapi bisa apa?


Meskipun
tak bisa apa-apa, aku yakin aku bukanlah bukan apa-apa. Aku tahu aku
bukan Tuhan, yang bisa begitu saja menebar rahmat pada umatnya.
Sesekali aku berharap dapat kembali, perhatian yang sederhana. Tapi,
aku harus belajar memahami lagi arti kehendak, arti harapan. Ya.
Lagi-lagi aku tersadar, apa yang diharapkan belum tentu didapatkan.


Seorang
kawan berkata: Ini tanggal lahirmu bukan? Mungkin hari ini kau
kebetulan mengingat, “Lalu aku ini apa?” Sesekali, dalam usimu
kini, ada yang terlintas, “Setelah hidup, apa pula arti kehendak
itu?”  (QS 16:4 – QS 51:56)




mei

April 30th, 2007 by annarnellis

Pagi
ini bokap gue bilang, “Kok gak ada yang kasih Bapak ucapan
selamat?” Sambil mikir nyokap balik tanya, “Emang ada apa?”
Bokap bilang, “Sekarang kan hari buruh.” Nyokap seketika itu
tersenyum-senyum sendiri. Entah, menyadari apa, mungkin merasa lucu
karena ia merasa seharusnya hal itu bukan sesuatu yang patut
dirayakan. Tapi kemudian nyokap bilang, seharusnya majikan-majikan
bokap itu yang memberi selamat,memberi hadiah, memberi tambahan
gaji,memberi tunjangan entah apalagi,demi buruhnya ini. Tapi, bokap
gak bilang apa-apa. Dia diam aja, mungkin udah pasrah aja sama
nasibnya sebagai buruh.

Meskipun
begitu, sejauh yang bisa gue perhatikan, begitulah, bokap sumarah.
Tapi bukan sumarah yang pasrah lalu tak berbuat apa-apa. Dia tetap
berusaha kasih apa aja yang dia punya. Yang paling besar adalah
tenaganya untuk bekerja keras. Mengeluh seringkali terdengar, tapi
itu gak menghalangi dia jadi malas dan gak mau bekerja lagi. Dia
bilang, “Kalau nurutin bosan, Bapak bosan banget, kerja 20 tahun
gini-gini aja, tapi kalau cuma ini yang bisa dilakukan, ya lakukan
aja dengan sebaik-baiknya.”

Mendengar
itu, gue jadi malu. Dua tahun terakhir ini gue juga bosan sama hidup
gue. Udah berjuta kata-kata makian keluar hanya untuk bilang “Life
sucks!” Trus lo mau apa, Ne? Cuma mau mengumpat dan menjadi lemah
karena itu? Ahh…

Dua
tahun terakhir gue sering merasa jadi makhluk paling merana sedunia.
Padahal kalau otak gue mau berputar sedikit aja, gue pasti merasa
sangat beruntung di dunia. Otak gue nyatanya lebih memilih untuk
berhenti, memanjakan perasaan, hidup di dunia gelap, berhitam-hitam,
meratapi nasib, mengutuk karunia. Ahh! Gue pernah bilang gue gak mau
jadi Annelies yang hanya bisa meratapi nasibnya tak bisa bersama
dengan Minke. Gue bisa kok jadi Annelies yang tangguh mengurus
kuda-kudanya. Tapi kemarin gue memilih untuk jadi Annelies yang gak
mau makan, sedih habis-habisan karena Minke nya pergi. Argh, lalu
buat apa gue bernama arnellis dengan R yang tegar itu?

Padahal
cahaya sering singgah juga ke gua gelap gue,menegur, mengajak keluar,
menunjukkan bahwa di luar sana ada hidup yang penuh sinar. Tapi,
nyatanya dua tahun terakhir ini gue memilih untuk bertahan aja di gua
itu. Gue bodoh? Ya! Kemarin sempat juga gue berkenalan dengan tali
tambang, berniat menyematkannya di leher. Tapi, gue takut. Gue ingat
sober ‘aku bosan hidup ini tapi belum siap mati’. Takut juga jadi
hantu gentayangan yang gak diterima Tuhan. Ahh! Lagipula gue jadi
ingat juga, sudah setahun ini Pram mati, tapi masih aja dia dikenang.
Kenapa? Karena dia sudah berkarya. Lalu, gue? Tak kan lah gue
dikenang jika karya gue pun belum  datang.

Gue
akan jadi minke alias monyet beneran kalau gue masih juga bertahan di
kehitaman. Ini gak ada kaitannya dengan ‘mereka bilang saya
monyet’. Ini iseng-iseng gue aja yang menghubungkan peristiwa
kemarin dengan hidup yang lagi gue jalani. Kemarin, Putu Wijaya
menunjuk muka gue sambil bilang “monyet!” Kebetulan aja waktu dia
cerita tentang memek, dia ngiter2, kemudian ketemu gue dan menunjuk
gue. Yah, selintas aja. Tentu apa yang baru dia lakukan gak akan
diingatnya lagi. Tapi, gue bisa jadi monyet beneran, yang cuma
bermain-main dengan keluguannya, mencari kutu di rambut pasangannya,
memijat punggung pasangannya, hingga menjilati daerah pribadi
pasangannya. Harusnya ya gue gak boleh jadi monyet. Bahkan monyet
dalam cerita Putu aja gak mau sembarangan ‘dibegitukan’, apalagi
gue!

Ahh!
Sekarang bulan Mei ya? Masuk 22 tahun gue hidup di sini. Apalagi yang
mau gue geluti? Ya, sekarang gue harus semakin sering ketemu Tuhan.
Lalu bertanya, apa dia benar-benar menggendong gue seperti kata kawan
gue. Dia bilang, hidup ini seperti berjalan di pantai sambil melihat
laut luas. Saat kita berjalan itu, akan tertinggal jejak-jejak di
pasir putih. Tapi ternyata jejak itu bukan jejak kaki kita sebab
ukurannya pun tak sama seperti tapak kaki kita. Ternyata, itu adalah
jejak Tuhan yang menggendong tubuh kita. Kita yang tentukan arahnya,
maka dia yang gerakkan kaki kita.

Nah,
siang ini gue mulai dapatkan lagi deg-degan dan gairah yang kemarin
sempat hilang: bab 2 skripsi gue gimana,nih???

Wajah Tuhan di Pantat Ronggeng

February 12th, 2007 by annarnellis

Perjumpaan gue dengan Ahmad Tohari akhir Januari lalu,
menjadi vitamin bagus buat otak liar gue. Juga otak liar kalian, kawan-kawan.
Entah ya, buat kawan-kawan gue yang sudah hebat, sudah mampu dengan mudah
mengendalikan keliaran khayal fantasi untuk bercinta, mungkin kata-kata Tohari
ini jadi biasa-biasa saja. Bahkan mungkin jadi konfrontasi buat otak mereka.
Tapi buat gue, kata-kata yang Tohari sampaikan, cukup mampu membendung khayal
itu tadi dengan anggukan paham dan diiringi kata, iya ya…

 

Gue buat perbandingan kisah gue dengan cerita Tohari
berikut ini. Kalian sebaiknya juga lakukan perbandingan serupa. Semoga nanti muncul
kesadaran bahwa kita sering terjebak bercinta dengan bebas, karena lebih sering
mendidihkan sensasi dan membekukan otak.

 

Suatu kali, Tohari menonton ronggeng. Sang ronggeng
menari dengan sensual, dengan tubuh indahnya yang kebanyakan membuat penonton
naik birahi. Tohari nonton itu bersama seorang pejabat pemerintah dan seorang
kiai. Dua orang di sebelahnya itu menundukkan muka, tak mau melihat hal yang
menurut mereka adalah aib. Namun, Tohari asyik-asyik saja melihat itu semua.
Kenapa?

 

AT: Mata harus dijaga dari
maksiat, itu dalilnya jelas. Dan tak mengada-ada. Masalahnya ada dalil yang
lain. Dalil ini sebetulnya dari Allah untuk orang-orang khusus dan yang lain
juga. Sama-sama dari Alquran. Dalil yang kedua bunyinya begini: apapun yang kau
lihat, di situlah wajah Tuhan. Ini, bayangkan itu, ya. Bayangkan ronggeng tadi
telanjang bulat sampai pantatnya kelihatan. Nah, mari kita matikan sensasi,
kita hidupkan akal. Masalahnya selama ini yang hidup cuma sensasi, akal
berhenti. Nah, kalau akal yang bicara, maka begini. Pantat yang menol-menol
itu, sebetulnya sekian trilyun atom air, sekian trilyun atom fosfor, sekian
trilyun atom protein, dan sebagainya. Itu bukan apa-apa. Ya, nggak? Betul, kan?
Menurut akal, kan, begitu? Sekarang kamu lihat tubuh laki-laki yang kayak…
seksi begitu. Jangan lupa itu juga kayak itu. Sekian trilyun atom air, sekian
trilyun fosfor, itu! Jadi, kita tidak boleh terlalu kagum. Kagumnya justru pada
mengapa sekian trilyun atom itu bisa berbentuk seperti itu, kemudian hidup,
bahkan kemudian punya kesadaran. Itulah wajah Tuhan. Itu loh…Jadi, di pantat
ronggeng pun ada wajah Tuhan. Dan ternyata Pak ini nggak tahu. Gitu loh…
Jadi, saya sih, asyik aja, haha…Nah, ini bedanya. Dua-duanya memang punya
dalil, tapi dalil yang kedua hanya untuk orang yang khusus.

 

A: Tapi, kan, masyarakat kita masih sangat awam
menggunakan dalil yang kedua. Upaya Bapak gimana?

AT: Ya, saya mengambil risiko itu.
Kalau tidak mau mengambil risiko, berarti saya tidak pernah berani mengatakan
akal. Sensasi terus. Padahal sensasi isinya bohong. Sensasi itu, kan, bukan
perasaan sebenarnya. Dilambung-lanbungkan sendiri. Sebetulnya, sih, nggak ada
apa-apanya. Misalnya, gini ya. Misalnya, cantik, siapalah…Blezsinsky itu,
kan, cantik. Siapa namanya?

 

A: Tamara.

AT: Ya. Itu, kan, sekarang. Coba 20 tahun lagi. Hahaha…
Lha iya, 30 tahun lagi, dikasih aja nggak mau itu. Tapi kalau disensasikan
sedemikian rupa, seolah-olah cantik itu abadi, gagah itu abadi, nikmat itu
abadi. Tolong sekali-kali akal bicara, jangan sensasi terus. Ya, risikonya
memang, ya, begitu. Sampai itu ada kiai yang mengatakan, “Apa kamu tidak menemukan
objek lain, sampai harus menulis ronggeng?” Kiai ini juga keblinger juga
ternyata kiai ini. Padahal dia itu sangat hapal ayat surat Albaqarah yang
berbunyi: la huma fi samaa waati wamaa
fil ardhi
; kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Apa itu dalam bahasa Arabnya ma. Nah, ronggeng ini masuk dalam
pengertian ma atau bukan?

 

A: Ma.

AT: Iya. Apa yang ada di bumi, itu semua milik Allah.
Termasuk ronggeng, bukan?

 

A: Ya.

AT: Iya, dong! Kalau itu milik Allah, kenapa nggak boleh
kita bicarakan? Kenapa nggak boleh kita kaji? Kenapa nggak boleh kita aduk-aduk
isinya? Kenapa? Harus boleh, dong! Boleh, cuma memang ada syaratnya. Syaratnya
itu, bismirabbikalladzi kholaq.
Ketika kita ngaduk-ngaduk perut ronggeng itu, pantatnya ronggengnya itu, kan,
ya, pijakan kita adalah bismirabbikalladzi
kholaq
; membaca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Nanti dampaknya lain.
Kita bukan menjadi penikmat. Bukan menjadi sensasioner, tetapi sebagai
orang-orang yang sedang mencari amal. Gitu.

 

Pada akhirnya gue percaya, Tuhan dan hitam akrab sekali.
Gue gak perlu takut Tuhan akan ninggalin gue saat gue jatuh di lubang hitam.
Gue harus pandai-pandai mencari wajah Tuhan dalam kehitaman. Ya, seperti
mencari wajah Tuhan di pantat ronggeng. Setelah tahu, gue yakin, Tuhan akan
menemani gue mencari putih lagi.

 

Percayalah kawan, hitam dan Tuhan itu bermesraan.

kalian harus tahu: APARAT KEPARAT! BANGSAT!!!

December 28th, 2006 by annarnellis

UAS
sudah sangat menyesakkan hati. Maka, seperti sewajarnya manusia, gue
mencari kegiatan untuk menyegarkan pikiran. Biasanya, setelah itu,
akan muncul ide-ide baru yang lebih fresh. Lumayan buat
mengisi pasokan vitamin hati.


Maka
larilah gue ke Ancol untuk mencari kesegaran itu. Ya, gue dapatkan
kesegaran, sekaligus ide baru yang segar untuk makalah akhir gender
dalam sastra yang harus gue kumpulkan hari ini. Taukah? Makalah
gender gue akhirnya mengangkat tema kekerasan. Kenapa? Kerana itulah
yang gue temui di Ancol pada malam harinya.


Sejak
jauh-jauh hari, gue sudah mengagendakan untuk pergi ke konser ulang
tahun Slank nanti. Dan ketika gue tahu Slankfest Indie 23th Bday itu
dilaksanakan di Ancol tanggal 27, bertepatan dengan deadline
ujian-ujian gue, pusing sekaligus senang juga gue. Pusing karena
harus membagi-bagi lebih, tapi ya senang juga karena minggu ujian gue
jadi ada bumbu manisnya.


Itu
bayangan di awal.


Gue
sampai di sana jam 8 malam. Udah lewat jauh dari jam mulai, jam 10
pagi. Yah, emang harus kecewa berat dulu dengan kawan gue karena
memolorkan janjinya untuk pergi jam 4 sore. Tapi, gak apa-apa.
Meskipun kesel karena gak bisa berpuas-puas lihat-lihat keseluruhan
acara dan sajian pendukungnya, gue harus bersyukur juga karena bisa
solat magrib di rumah. Maklum, kalau udah di sana, sulit buat kita
(terutama perempuan) untuk bisa solat dengan bahagia. Panitia kan
menyiapkan tempat untuk berpesta, jadi kebutuhan akan hal-hal seperti
solat (yang jelas bukan pesta) harus minggir dulu.


Masuk
ke kerumunan depan panggung utama (panggung ada dua), emosi udah
mulai naik. Emosi yang bagus, emosi buat olahraga membuang keringat
bersenang-senang dengan bernyanyi dan berjingkrakan. Dari jam 9, gue
masih bisa seru nikmatin Shaggydog yang bikin “Bangsat Cantik”
jadi reggae asik. Kaka yang mencoba “Hapus Aku” bersama kembaran
rambutnya, Giring Nidji. Juga terpukau oleh Whiteshoes yang bikin gue
“Terbunuh Sepi” dengan aroma 70-an yang melenakan. Gue bersenang
hati dengan itu semua, sampai…


ada
aparat yang mukul gue!!!


Kejadiannya
berlangsung cepat. Seperti biasa, gak ada yang tahu siapa yang main
api, yang jelas kerumunan penonton berhamburan kocar-kacir ke
sana-sini. Rusuh. Botol-botol beterbangan. Slankers dan polisi
berlarian. Dengan maksud cari aman, slankers biasanya akan menyingkir
ke mana saja ketika ada aparat yang turun pake helm dan pentungan
yang mengejar mereka.


Gue,
bareng tiga kawan gue, ada di depan tengah panggung. Kami ikut
terseret arus anak-anak yang menyingkir menuju pagar batas panggung.
Kaki udah pasang kuda-kuda sekuat mungkin, tapi, tetap aja,
seringkali kaki gak berpijak di tanah. Sambil jalan mundur, mata gue
dan lainnya disuguhi pemandangan anggota polisi brimob yang sibuk
mengejar dan memukuli siapa aja yang ada di dekatnya. Barisan mundur
di belakang gue berjatuhan. Sementara di depan kami, ada seorang anak
yang dipukulin banyak polisi. Seorang kawan gue memutuskan agar kami
tetap berada di posisi terakhir, dengan pertimbangan untuk nunjukin
bahwa kami emang gak salah. Sebetulnya emang gak jelas dan gak
menjamin sama sekali, dengan menyingkir berarti membuktikan bahwa
bukan saya yang salah. Dalam keadaan seperti itu, mereka akan
memukuli siapa aja yang ada di depan mereka. Bahkan yang udah
menyingkir, tapi masih ada di pinggir barisan dan gak terlindung,
juga gak luput dari pukulan mereka, atau minimal tatapan horor minta
disegani.


Entah
gimana, tiba-tiba ada tangan seorang polisi Brimob melayang ke arah
gue. Seorang kawan gue yang sejak tadi memegangi tangan gue supaya
gak terjatuh, terkena pukulan tangan polisi tadi. Pukulan tangan itu
mengarah ke kepala dan telinga kanannya. Kepala gue terbentur kepala
kawan gue itu. Sontak kawan gue bilang, “Biadab! Ada cewek nih,
bangsat!” Beberapa polisi lainnya mengerubungi kami. Ada yang
kembali ingin memukul. Namun, gak jadi karena dua kawan gue lainnya
ikut berteriak bahwa salah satu dari kami adalah perempuan.
Polisi-polisi itu akhirnya hanya mengelilingi kami dengan tatapan
tajam dan sok angker mereka. Kawan gue lainnya yang berada di
belakang kena tampar. Kami hanya bisa berputar-putar. Tiga kawan
laki-laki gue itu mengelilingi gue dan berputar. Saat itu baru kami
sadari bahwa kami ada di tengah-tengah lapangan kosong dan
dikelilingi polisi-polisi bangsat itu. Slankers lain kebanyakan
menyingkir hingga dua lapis saja di dekat pagar batas panggung. Musik
yang lagi dimainkan berhenti. Lampu yang tadinya mati, menyala terang
sejak ribut tadi dimulai.


Kami
seperti empat orang tertuduh di tengah ruang gelap interogasi.


Gue
pikir telah berakhir. Saat kami berputar, di belakang kami para
polisi sudah mendapatkan buruannya yang tadi lari. Seorang Slankers
terjatuh-jatuh sambil menutupi kepalanya ketika sejumlah polisi
mengerumuninya, menjatuhkan pukulan dan tendangan ke tubuhnya yang
kecil itu. Posisi anak itu dekat dengan kami. Gue dan dua kawan gue
gak bisa apa-apa. Gue hanya bisa berteriak-teriak, “Udah pak! Ya
ampun! Udah! Bangsat!” Seorang kawan gue lainnya hanya bisa terdiam
melihat itu. Anak itu kemudian digelandang setelah bidadari
penyelamat (kru keamanan Pulau Biru) turun dan membubarkan keadaan
itu.


Gue
dengar, entah Bim2 entah Kaka, bilang (kira-kira begini),”Yok,
udah, liat ke sini lagi, kita lanjutin lagi.” Saat itu gue gak
berpikir apa-apa tentang kalimat itu karena gue keburu dihampiri sama
Imay, salah satu bidadari penyelamat. Dia menanyakan kondisi kawan
gue yang kena pukul, juga keadaan gue. Blambir menyala lagi,
menyemburkan air laut ke tengah lapangan. Gue dan kawan-kawan malah
jadi sibuk melindungi Imay yang minta ditutupi karena membawa toa.
Kita malah ketawa-tawa, sibuk membungkus toa supaya gak kena basah.


Sebetulnya
saat itu mood gue jelas ngedrop. Baru kali ini gue melihat kekerasan
dilakukan terhadap gue. Kalau selama ini hanya lewat tv gue lihat
mahasiswa atau warga yang bentrok dengan polisi, sekarang gue dkk
yang mengalami itu. Kawan gue yang kena pukul itu gak henti-henti
bilang, aparat keparat, biadab, anjing, bangsat! Gue juga ikut
menebar sumpah serapah, tapi seringkali juga diam gak tau lagi harus
apa.


Di
perjalanan pulang, kami sibuk membahas kejadian tadi. Kawan gue yang
ketika kejadian berlangsung hanya diam, bilang bahwa kita gak akan
bisa berargumen apa-apa di lapangan. Dia bilang, lebih baik, lihat
badge polisi itu dan nanti cari di luar. Kenapa? Karena saat di
lapangan, kita semua akan dianggap salah. Mereka akan menarik siapa
saja karena mereka butuh seorang kambing hitam. Tapi, darimana mereka
dapat keyakinan bahwa laki-laki kecil yang mereka giring tadi adalah
biang rusuhnya? Coba, dengan keyakinan apa dia bisa memukul kawan gue
yang gak melakukan kesalahan apapun? 


Masih
kata kawan gue. Posisi kita akan dibuat serba salah. Kalau ikut
mundur ke tepian, ada dua pilihan: satu, kita menyingkir tapi
dianggap salah, dan dua, kita merasa benar tapi kena hantam juga.
Pilih mana? Kami pilih yang kedua, karena kami tidak merasa salah.
Mungkin orang lain bilang itu bodoh, karena seperti menyodorkan
badan. Tapi, lagi-lagi, apa jaminannya jika menyingkir maka kita
selamat?


Ada
masalah gender juga di sini. Polisi itu berhenti menghadang setelah
kawan-kawan gue bilang salah satu dari kami adalah perempuan. Gue
seperti dijadikan alat perlindungan. Jadi karena gue perempuan, gue
gak boleh dipukul, tapi kawan laki-laki gue boleh? Kenapa gak pukul
kami semua? Atau, yang mulia adalah ya jangan pukul kami tanpa lihat
mana laki-laki dan mana perempuan!


Kawan
gue juga mempertanyakan peran Slank yang gak berkoar setajam dulu
pada polisi. Biasanya mereka akan bilang macam-macam, meminta polisi
untuk udahan kalau ada Slankers yang dipukul. Kalau ada rusuh, mereka
akan berhenti main, dengan tegas meminta kita untuk udahan, baru
nanti dilanjutkan lagi kalau udah tenang. Sayang, itu dulu. Kemarin
gue sama sekali gak melihat usaha Slank untuk melindungi kami. Pasti
Kaka bisa berkata sesuatu karena dia bisa lihat dengan jelas adegan
kami. Bayangkan, lampu panggung mati. Lampu samping panggung menyorot
ke lapangan. Di lapangan ada kami yang berdiri berempat dikelilingi
aparat macam anjing mengincar tulang itu. Ada juga si Slankers kecil
yang dipukuli itu, yang jelas2 bikin hati sakit. Tapi, mana suara
Slank? Setelah usai, dia hanya berkata: Yok, udah, liat ke sini lagi,
kita lanjutin lagi!


Ah,
bahasan kita lumayan panjang, belum juga selesai hingga hari ini.
Seorang kawan gue bilang, belajarlah untuk memaafkan, dengan
menempatkan diri di posisinya. Ya, mungkin itu akan berguna. Tapi,
sekarang, gue belum mau untuk itu. Di otak dan hati, gue masih belum
mendapat jawaban yang bisa membenarkan perlakuan mereka ke kami.


Dan
maaf, kalau hingga sekarang, gue masih menyerukan kata ini pada
mereka: BANGSAT!
 

December 21st, 2006 by annarnellis

kenapa laki-laki malam di dunia maya hobi banget pamer adik mereka yang kecil-kecil itu???

padahal, adik-adik mereka tuh cuma seukuran hobbit dalam dunia gandalf. lalu, mereka sibuk bertanya, "kamu suka?" dengan bangganya. hah??? apa mereka pikir saya bisa disuguhi pisang mas? Lha wong saya sukanya pisang raja-raja Ambon!!!

tapi, tak apa. lumayan menghibur mata yang mengantuk setelah bergaul dengan bromocorah secamenggala. semalam suntuk! bersama sandaran perahu hatiku yang tak pernah berhenti bertualang mengarungi samudera cinta… (^^,)

sekarang, mau  pulang. capek…

jakarta pagi ini…

tired7even

gue nikah!

December 16th, 2006 by annarnellis

wah? ada gosip: gue nikah!

hmm, emang baru2 ini ada temen gue yang nikah: andien dan sepridina. yang nikahan andien gue gak datang, ya karena gak diundang, hehe. yang nikahan sepridina gue dateng bareng agung sos 5 dan temen2 sos 2.

gue juga lagi sering ke undangan pernikahan: kak aan dan tante aty. yang kak aan, gue jadi mc akad nikah. yang tante aty, gue diajak nguga dan keluarganya.

lalu, bukan berarti gue juga lantas ikut menikah, sekarang pula!

agak menyeramkan juga membayangkan gue menikah sekarang. skripsi belum selesai, bahkan baru mengerjakan uas biasa. gue masih ingin ke rumah ahmad tohari tanpa harus meninggalkan pacar, ah, tapi, pacar juga gak ada. masih ingin nonton konser slank (sebentar lagi nih!) sama anak2 tongkrongan. masih ingin belajar bermain di media jurnalistik, semoga berkelanjutan. masih ingin bersuka ria sendiri.

beberapa pernikahan yang gue hadiri emang selalu menyisakan haru. kesakralan yang luar biasa. penghapusan noda lama dengan pemutih suci.  ya, ingin juga  melakukannya, tapi kapan, ya? kalau ada yang bersiap dan bisa membuat gue siap, ya gak apa! meskipun menyeramkan, harus dilakoni juga!

ya, tapi tentang gosip itu, buang saja!
tapi, senang juga, diperhatikan kawan2!

makasih ya…

titel = njudul..

December 7th, 2006 by annarnellis

tujuh kali tujuh, di pantai…

stuju ga stuju, harus santai…