UAS
sudah sangat menyesakkan hati. Maka, seperti sewajarnya manusia, gue
mencari kegiatan untuk menyegarkan pikiran. Biasanya, setelah itu,
akan muncul ide-ide baru yang lebih fresh. Lumayan buat
mengisi pasokan vitamin hati.
Maka
larilah gue ke Ancol untuk mencari kesegaran itu. Ya, gue dapatkan
kesegaran, sekaligus ide baru yang segar untuk makalah akhir gender
dalam sastra yang harus gue kumpulkan hari ini. Taukah? Makalah
gender gue akhirnya mengangkat tema kekerasan. Kenapa? Kerana itulah
yang gue temui di Ancol pada malam harinya.
Sejak
jauh-jauh hari, gue sudah mengagendakan untuk pergi ke konser ulang
tahun Slank nanti. Dan ketika gue tahu Slankfest Indie 23th Bday itu
dilaksanakan di Ancol tanggal 27, bertepatan dengan deadline
ujian-ujian gue, pusing sekaligus senang juga gue. Pusing karena
harus membagi-bagi lebih, tapi ya senang juga karena minggu ujian gue
jadi ada bumbu manisnya.
Itu
bayangan di awal.
Gue
sampai di sana jam 8 malam. Udah lewat jauh dari jam mulai, jam 10
pagi. Yah, emang harus kecewa berat dulu dengan kawan gue karena
memolorkan janjinya untuk pergi jam 4 sore. Tapi, gak apa-apa.
Meskipun kesel karena gak bisa berpuas-puas lihat-lihat keseluruhan
acara dan sajian pendukungnya, gue harus bersyukur juga karena bisa
solat magrib di rumah. Maklum, kalau udah di sana, sulit buat kita
(terutama perempuan) untuk bisa solat dengan bahagia. Panitia kan
menyiapkan tempat untuk berpesta, jadi kebutuhan akan hal-hal seperti
solat (yang jelas bukan pesta) harus minggir dulu.
Masuk
ke kerumunan depan panggung utama (panggung ada dua), emosi udah
mulai naik. Emosi yang bagus, emosi buat olahraga membuang keringat
bersenang-senang dengan bernyanyi dan berjingkrakan. Dari jam 9, gue
masih bisa seru nikmatin Shaggydog yang bikin “Bangsat Cantik”
jadi reggae asik. Kaka yang mencoba “Hapus Aku” bersama kembaran
rambutnya, Giring Nidji. Juga terpukau oleh Whiteshoes yang bikin gue
“Terbunuh Sepi” dengan aroma 70-an yang melenakan. Gue bersenang
hati dengan itu semua, sampai…
ada
aparat yang mukul gue!!!
Kejadiannya
berlangsung cepat. Seperti biasa, gak ada yang tahu siapa yang main
api, yang jelas kerumunan penonton berhamburan kocar-kacir ke
sana-sini. Rusuh. Botol-botol beterbangan. Slankers dan polisi
berlarian. Dengan maksud cari aman, slankers biasanya akan menyingkir
ke mana saja ketika ada aparat yang turun pake helm dan pentungan
yang mengejar mereka.
Gue,
bareng tiga kawan gue, ada di depan tengah panggung. Kami ikut
terseret arus anak-anak yang menyingkir menuju pagar batas panggung.
Kaki udah pasang kuda-kuda sekuat mungkin, tapi, tetap aja,
seringkali kaki gak berpijak di tanah. Sambil jalan mundur, mata gue
dan lainnya disuguhi pemandangan anggota polisi brimob yang sibuk
mengejar dan memukuli siapa aja yang ada di dekatnya. Barisan mundur
di belakang gue berjatuhan. Sementara di depan kami, ada seorang anak
yang dipukulin banyak polisi. Seorang kawan gue memutuskan agar kami
tetap berada di posisi terakhir, dengan pertimbangan untuk nunjukin
bahwa kami emang gak salah. Sebetulnya emang gak jelas dan gak
menjamin sama sekali, dengan menyingkir berarti membuktikan bahwa
bukan saya yang salah. Dalam keadaan seperti itu, mereka akan
memukuli siapa aja yang ada di depan mereka. Bahkan yang udah
menyingkir, tapi masih ada di pinggir barisan dan gak terlindung,
juga gak luput dari pukulan mereka, atau minimal tatapan horor minta
disegani.
Entah
gimana, tiba-tiba ada tangan seorang polisi Brimob melayang ke arah
gue. Seorang kawan gue yang sejak tadi memegangi tangan gue supaya
gak terjatuh, terkena pukulan tangan polisi tadi. Pukulan tangan itu
mengarah ke kepala dan telinga kanannya. Kepala gue terbentur kepala
kawan gue itu. Sontak kawan gue bilang, “Biadab! Ada cewek nih,
bangsat!” Beberapa polisi lainnya mengerubungi kami. Ada yang
kembali ingin memukul. Namun, gak jadi karena dua kawan gue lainnya
ikut berteriak bahwa salah satu dari kami adalah perempuan.
Polisi-polisi itu akhirnya hanya mengelilingi kami dengan tatapan
tajam dan sok angker mereka. Kawan gue lainnya yang berada di
belakang kena tampar. Kami hanya bisa berputar-putar. Tiga kawan
laki-laki gue itu mengelilingi gue dan berputar. Saat itu baru kami
sadari bahwa kami ada di tengah-tengah lapangan kosong dan
dikelilingi polisi-polisi bangsat itu. Slankers lain kebanyakan
menyingkir hingga dua lapis saja di dekat pagar batas panggung. Musik
yang lagi dimainkan berhenti. Lampu yang tadinya mati, menyala terang
sejak ribut tadi dimulai.
Kami
seperti empat orang tertuduh di tengah ruang gelap interogasi.
Gue
pikir telah berakhir. Saat kami berputar, di belakang kami para
polisi sudah mendapatkan buruannya yang tadi lari. Seorang Slankers
terjatuh-jatuh sambil menutupi kepalanya ketika sejumlah polisi
mengerumuninya, menjatuhkan pukulan dan tendangan ke tubuhnya yang
kecil itu. Posisi anak itu dekat dengan kami. Gue dan dua kawan gue
gak bisa apa-apa. Gue hanya bisa berteriak-teriak, “Udah pak! Ya
ampun! Udah! Bangsat!” Seorang kawan gue lainnya hanya bisa terdiam
melihat itu. Anak itu kemudian digelandang setelah bidadari
penyelamat (kru keamanan Pulau Biru) turun dan membubarkan keadaan
itu.
Gue
dengar, entah Bim2 entah Kaka, bilang (kira-kira begini),”Yok,
udah, liat ke sini lagi, kita lanjutin lagi.” Saat itu gue gak
berpikir apa-apa tentang kalimat itu karena gue keburu dihampiri sama
Imay, salah satu bidadari penyelamat. Dia menanyakan kondisi kawan
gue yang kena pukul, juga keadaan gue. Blambir menyala lagi,
menyemburkan air laut ke tengah lapangan. Gue dan kawan-kawan malah
jadi sibuk melindungi Imay yang minta ditutupi karena membawa toa.
Kita malah ketawa-tawa, sibuk membungkus toa supaya gak kena basah.
Sebetulnya
saat itu mood gue jelas ngedrop. Baru kali ini gue melihat kekerasan
dilakukan terhadap gue. Kalau selama ini hanya lewat tv gue lihat
mahasiswa atau warga yang bentrok dengan polisi, sekarang gue dkk
yang mengalami itu. Kawan gue yang kena pukul itu gak henti-henti
bilang, aparat keparat, biadab, anjing, bangsat! Gue juga ikut
menebar sumpah serapah, tapi seringkali juga diam gak tau lagi harus
apa.
Di
perjalanan pulang, kami sibuk membahas kejadian tadi. Kawan gue yang
ketika kejadian berlangsung hanya diam, bilang bahwa kita gak akan
bisa berargumen apa-apa di lapangan. Dia bilang, lebih baik, lihat
badge polisi itu dan nanti cari di luar. Kenapa? Karena saat di
lapangan, kita semua akan dianggap salah. Mereka akan menarik siapa
saja karena mereka butuh seorang kambing hitam. Tapi, darimana mereka
dapat keyakinan bahwa laki-laki kecil yang mereka giring tadi adalah
biang rusuhnya? Coba, dengan keyakinan apa dia bisa memukul kawan gue
yang gak melakukan kesalahan apapun?
Masih
kata kawan gue. Posisi kita akan dibuat serba salah. Kalau ikut
mundur ke tepian, ada dua pilihan: satu, kita menyingkir tapi
dianggap salah, dan dua, kita merasa benar tapi kena hantam juga.
Pilih mana? Kami pilih yang kedua, karena kami tidak merasa salah.
Mungkin orang lain bilang itu bodoh, karena seperti menyodorkan
badan. Tapi, lagi-lagi, apa jaminannya jika menyingkir maka kita
selamat?
Ada
masalah gender juga di sini. Polisi itu berhenti menghadang setelah
kawan-kawan gue bilang salah satu dari kami adalah perempuan. Gue
seperti dijadikan alat perlindungan. Jadi karena gue perempuan, gue
gak boleh dipukul, tapi kawan laki-laki gue boleh? Kenapa gak pukul
kami semua? Atau, yang mulia adalah ya jangan pukul kami tanpa lihat
mana laki-laki dan mana perempuan!
Kawan
gue juga mempertanyakan peran Slank yang gak berkoar setajam dulu
pada polisi. Biasanya mereka akan bilang macam-macam, meminta polisi
untuk udahan kalau ada Slankers yang dipukul. Kalau ada rusuh, mereka
akan berhenti main, dengan tegas meminta kita untuk udahan, baru
nanti dilanjutkan lagi kalau udah tenang. Sayang, itu dulu. Kemarin
gue sama sekali gak melihat usaha Slank untuk melindungi kami. Pasti
Kaka bisa berkata sesuatu karena dia bisa lihat dengan jelas adegan
kami. Bayangkan, lampu panggung mati. Lampu samping panggung menyorot
ke lapangan. Di lapangan ada kami yang berdiri berempat dikelilingi
aparat macam anjing mengincar tulang itu. Ada juga si Slankers kecil
yang dipukuli itu, yang jelas2 bikin hati sakit. Tapi, mana suara
Slank? Setelah usai, dia hanya berkata: Yok, udah, liat ke sini lagi,
kita lanjutin lagi!
Ah,
bahasan kita lumayan panjang, belum juga selesai hingga hari ini.
Seorang kawan gue bilang, belajarlah untuk memaafkan, dengan
menempatkan diri di posisinya. Ya, mungkin itu akan berguna. Tapi,
sekarang, gue belum mau untuk itu. Di otak dan hati, gue masih belum
mendapat jawaban yang bisa membenarkan perlakuan mereka ke kami.
Dan
maaf, kalau hingga sekarang, gue masih menyerukan kata ini pada
mereka: BANGSAT!