Monday, June 26th, 2006
anak sekolah gak lulus bunuh diri!
gempa, banjir lumpur, banjir bandang!
ribut-ribut, lempar2an batu!
gue! bego di sini!
anak sekolah gak lulus bunuh diri!
gempa, banjir lumpur, banjir bandang!
ribut-ribut, lempar2an batu!
gue! bego di sini!
Koran Kompas Minggu (18/6) baru gw baca kemarin. Serunya, ada artikel yang judulnya “Keseragaman Hambat Tumbuhnya Kebudayaan”. Hmm, sejalan dengan apa yang gw pikirkan beberapa hari ini ya! SBY bilang ”Kebudayaan akan tumbuh sehat jika sejalan dengan karakter masyarakatnya yang khas, yang tidak seragam di setiap kelompok. Dengan karakter, lingkungan alam, dan kebudayaan yang khas dari masing-masing masyarakat akan melahirkan keragaman kebudayaan yang unik dan menarik”. Hmm, gw setuju kali ini sama SBY.
Ah, ngomong2 SBY, jadi inget Sosial Betawi Yoi (SBY)-nya Slank. Gw kangen banget nonton konsernya Slank. Beruntungnya, besok mereka akan konser di PRJ. Tapi buntungnya, gw harus menyeragamkan hati, otak, dan kantong gw untuk nonton konser itu! Gimana ya, si hati pengen banget mengkatarsiskan liburan dengan hura-hura nonton Slank, tapi si kantong ga mendukung! Si otak sendiri pengen dukung dua-duanya, si hati dan si kantong. Si otak dukung si hati karena konser itu emang bagus buat nyegerin pikiran sehingga si otak bisa kerja enak lagi nantinya. Si otak juga sadar sih kalo ke sana itu butuh ngorek si kantong. Tapi, si kantong kan bisa minta bantuan dari luar alias ngutang2 dulu. Arghh! Males betul! Akhirnya gw putuskan untuk menyeragamkan pikiran si hati, otak, dan kantong biar si Arne-nya sendiri enak. Jadi, keputusannya, gw ga usah nonton konser Slank di PRJ besok!
Hmm, biar lega ngelepas keputusan ini, gw cari aja alasan2 jelek kalo gw memaksakan dateng. Nanti pulang malem lah, duit abis lah, juga ketemu Slankers yang sekarang sering bikin males karena hobi ribut aja. Uh, mending ribut mulut doang. Ribut orang Indonesia sih cenderung pake fisik, seperti kata Ariel Heryanto (Kompas, 18/6). Katanya, kenapa orang Indonesia lebih suka ribut pake fisik daripada pake mulut aja, kerena mereka yakin ga ada hukum dan pranata lain yang bisa menegakkan keadilan. Orang Barat takut main fisik, karena konsekuensi hukumnya jelas, tapi di sini ga ada kan? Makanya, polisi yang jaga konser gw dukung banget untuk bersikap tegas menghadapi anak2 yang bakal rusuh dan ribut2 itu. Tapi, polisinya jangan pake cara rusuh dan ribut juga, yaa…
Well, piss!
Keberagaman? Menarik!
Hari Rabu sampai Jumat, gw kerja poling Kompas yang mengharuskan gw ngobrol-ngobrol dengan orang Makasar dan Yogyakarta. Menarik! Logat bahasa yang mereka pake mencirikan mereka banget. Di kuping gw, logat itu pasti akan terdengar lucu saat keluar dari mulut anak kecil. Sejak kecil mereka udah hidup dalam dunia bahasa seperti itu, jadi jelas anak-anak itu berdialek seperti yang terdengar dan terpelajari dari orang dewasa di sekitar mereka. Semua itu terdengar menarik di telinga gw. Eh, tapi hal itu jadi kendala juga ya, yang menyulitkan dan membuat gw sempet kesel dan akhirnya bertanya, kenapa mesti ada perbedaan bahasa sih?
Hari Sabtu, gw pergi sama Harry, jenguk Atre yang sakit demam berdarah. (Hmm, baru kemarin ada sejumlah pendapat di poling yang bilang bahwa kerja Sutiyoso untuk peningkatan kesehatan masyarakat Jakarta udah memuaskan, tapi kenapa ya si Atre masih kena DBD juga?) Ah, ya, dalam perjalanan menuju RS, gw naik angkot yang dipenuhi sejumlah penumpang. Seperti kebiasaan mata nganggur di angkot pada umumnya, mata gw jelalatan mengamati muka-muka penumpang lain. Menarik! Di sebelah gw adalah Harry, teman gw yang asli anak Betawi. Di depan gw, ada seorang ibu beserta satu anak gadis dan satu anak kecilnya yang jelas dari suku (?) Tionghoa. Si anak gadis pakai kaos kecil dan celana pendek hingga memperlihatkan kulit putihnya yang sempet bikin iri di hati gw. Trus di samping gw ada seorang ibu yang menggendong anak bayinya. Karena pake tank top dan celana pendek, kulit cokelatnya keliatan jelas. Anaknya berambut keriting kruwel, persis kayak gw waktu kecil. Dulu waktu rambut gw masih kayak gitu, gw dipanggil Eyi Ambon. Hmm, kemungkinan besar ibu ini juga dari suku itu. Trus, di depan gw, ada suami istri tampaknya, yang mukanya kelihatan Jawa banget. (Eh, emang ada ya muka Jawa banget atau enggak?) Yah, begitulah, waktu mereka mau turun dan sibuk merundingkan ongkos angkotnya, keluarlah bahasa Jawa. Lalu, di depan gw juga, duduk manis seorang ibu berkerudung yang hidungnya mancung banget, garis matanya hitam karena pakai sipat alis, badannya besar, ah pokoknya kelihatan seperti orang India. Di bangku artis (bangku tambahan itu loh!) ada dua orang ibu pulang dari pasar yang asyik ngobrol dengan logat Betawinya yang kental banget. Di pojok belakang supir, ada cewe manis yang sering senyum manis. Gak ketahuan dia orang apa. Mungkin orang Padang karena tampaknya seperti itu. Atau ini cuma perkiraan gw aja biar terasa makin keliatan keberagaman asal para penumpang itu?
Hari Minggu, gw pergi ke TMII nemenin Arif nyari bahan buat tugas ujian lansekapnya. Target kami yaitu mendapatkan motif khas Kalimatan, jadi kami fokus nyari-nyari bahan itu di anjungan Kalimantan. Menarik! Sebetulnya ini adalah kunjungan gw yang kesekian kali ke TMII, tapi baru kali ini gw sadar sesadar-sadarnya bahwa TMII adalah sebuah proyek gila. Pertama, gila, gw angkat jempol ke atas untuk ide kreatif cemerlangnya. Dan kedua, gila, gw angkat tangan untuk ide pencarian dananya. Huah, berapa perak tuh duit yang dipake buat membangun satu lamin aja, dengan kayu besi yang kokoh banget, ukiran dan gambar-gambar khas, juga dengan tikar lampit beratus meter persegi? Itu baru satu lamin! Belum rumah panjang yang lain, belum lagi rumah gadang atau tongkonan yang jumlahnya ga cuma satu! Huah, terserah Allah deh mau mengganjar Soeharto dengan apa!
Arif bilang, salah satu dosen lansekapnya ga suka dengan TMII. Bukan karena ga suka budaya Indonesia atau karena ga suka Pak Harto (itu lain hal deh!), tapi karena desain taman di TMII sama semua alias seragam. Katanya, semua taman di anjungan, juga di museum-museumnya, cuma berdasarkan satu konsep yang sama, sehingga malah menenggelamkan ciri dari tiap daerah. Ah, ini keliatan seperti upaya menyeragamkan keberagaman bangsa!
Hhh, coba dipikir lagi, kenapa mesti diseragamkan sih segala perbedaan itu? Apa karena perbedaan itu tampak menakutkan ya? Ya, bisa juga, kalo kita ingin melihatnya dari sisi itu. Tapi, perbedaan dalam keberagaman tadi bisa menyenangkan juga kok! Makanya, dari tadi gw udah tiga kali bilang, menarik! Gw sumpah susah banget waktu harus menanggapi bahasa Makasar atau Jawa itu, tapi susahnya itu ga gw anggap sebagai hal yang menakutkan. Anggap aja itu teka-teki silang yang bikin dahi kita berkerut tapi bikin senyum mengembang segede-gedenya saat berhasil ketemu jawabannya. Seangkot sama cewe Cina yang putih mulus atau ibu India yang mancung banget emang bikin mupeng yang kalo didramatisasi banget, bisa bikin gw iri, dengki, sirik, dendam, lalu membenci mereka. Untungnya, iri dan kawan-kawannya itu ga datang ke hati gw. Hitam gw manis kok, pesek gw lucu kok, hehe. Tinggal gimana gw berbaik-baik dengan semua hal itu kan? Lagian kalo semua orang putih dan mancung, dan kemudian ga ada keberagaman, mau jadi apa dunia ini? Waallahu alam yah…
Indonesiayang dipenuhi beragam suku bangsa sebetulnya masalah biasa yang sudah amat biasa gw ketahui, tapi kenapa ya, nyatanya beberapa hari belakangan ini hal itu jadi terasa beda di mata gw?
Kenapa takut sendiri?
Gw dapet ilmu lagi tentang kesendirian. Inget ga waktu Pak Harto (ups, masih seputar Pak Harto nih!) ulang tahun Juni kemarin, banyak orang dari daerah yang datang ke depan rumahnya, berdoa beramai-ramai untuk kesembuhannya dan mengucapkan ”Selamat ulang tahun, Pak!” Serombongan ibu-ibu dari Bandung bahkan pake kaos seragam yang isinya kurang lebih mendukung Pak Harto. Dan atas semua itu, pihak Cendana bilang, mereka sama sekali ga mendatangkan orang-orang itu. ”Itu sih emang para pendukung Bapak saja”, gitu kali kira-kira jawaban dari The Cendana’s. Tapi masak iya, orang-orang kecil itu segitu relanya bikin kaos dukungan buat Pak Harto dan naik bis jauh-jauh dari Bandung cuma buat nongkrong di depan pager Cendana, tanpa ada yang mempersilakan makan nasi kuning atau blackforest ultah di rumah maha gede itu? Haha…jelas lebih mending pergi tour ke Bali sekalian, naik bis AC dan bikin kaos bertuliskan Jalan-Jalan Hepi ke Bali!
Tampaknya ya, keluarga Cendana itu takut kalo ditinggal sendirian. Takut saat kehilangan orang-orang yang dulu ada di sekitar dia dan mungkin mendukung dia. Maka bersibuk-sibuklah mereka menghadirkan ’rombongan tepuk tangan’ untuk acara ultah si Bapak itu. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa mesti takut sendiri? Ah, jelas, siapa pula yang ingin hidup tanpa teman di dunia ini? Tapi, apa guna kalau mereka hanya teman saat butuh aja? Dan apa pula guna orang yang sangat kita harapkan untuk selalu ada di dekat kita, tapi sebetulnya dia itu sudah tak ingin di dekat kita lagi? Ah, silakanlah malu karena mengemis untuk minta ditemani! Daripada repot mencari seorang atau sejumlah orang yang mau berdekat-dekat dengan diri kita, lebih baik perdekat diri dengan teman-teman yang ada. Karena nyatanya kita suka buta, semut di seberang lautan tampak, sedangkan gajah di depan mata tak tampak, atau sengaja ditidaktampakkan. Dan, kalaupun akhirnya semut yang dibutuhkan itu tak didapatkan, kenapa mesti takut untuk menjadi sendiri? Hmm, kalau gw seperti itu, dan mungkin juga kalian, ada baiknya gw dan kalian baca 3 puisi di bawah ini berkali-kali. Tiga puisi ini datang saat gw berulang tahun Mei lalu. Tentunya, bukan ulang tahun yang mengerahkan bala tepuk riang gembira dari negeri seberang sana.
awan menggantung rendah
datang untuk bernyanyi sepi
maaf…
ini bukan kehendakku
ternyata musim hujan datang lebih cepat
ke jendela kamarmu…
sesekali salju akan mampir membakarmu
menyeret paksa titik-titik airmata
sampai saat itu datang
berpikir sajalah tentang hujan
tentang titik air yang mengikat
langit dan lautan…
kau akan berhenti menangis
dipaksa senja yang tergantung manja
ya, kau akan berhenti menangis
untuk satu hari ini saja…
4 Mei 2006
Catra
PINTU
Pagi ini sebuah pintu dan hari ulangtahunmu.
Kau merasakan apa ketika ingin membukanya
Kemudian yang lolos begitu saja dari kepalamu,
sebaris waktu yang telah menjadi kubur-kubur
hingga selintas wangi tubuh yang
akan membuatmu rindu,
sempatkah kau mengingatnya?
Ah, kau hanya perlu mengucapkan
selamat pagi, tidak lainnya. Sambil lalu saja.
Tidak untuk mengenangnya, sebab kau tahu
akan menjadi gelisah karenanya.
Membuatmu tampak begitu lunak.
Padahal siang nanti matahari tak lagi ramah kepadamu,
dan ingin mengajarimu beberapa kata
yang mungkin akan mulai kau cari maknanya
saat malam tiba, lalu menjadi bagian mimpimu.
Dan ulangtahunmu tak berhak lagi kau rayakan
ketika hari berubah menjadi besok.
Untuk apa pula menjadi cemas
hanya karena tak ada lagi yang datang menyalami
dan hari begitu sepi.
Yang kita sadari, cerita tentang hari akan terus berganti.
Tentang sebuah kemarin yang telah jatuh
lalu terinjak-injak di sini. Tentang sebuah lusa yang harus berhati-hati
karena telah diberi janji.
Selebihnya pintu telah menjadi saksi.
Pintu menunggumu berdiri dan ingin kau melewatinya.
Sederhana saja, karena begitu ingin mendengarmu
menyusun siasat hari ini,
agar segera kau tunaikan satu keharusan,
agar tak lagi kau lemparkan sederet keluhan yang
sering menempati sudutnya.
Yang tak suka jika kau bohongi.
Kau bukan lagi seorang yang mudah terhibur oleh
sebuah kado kecil yang tiba di tanganmu,
suatu hari yang penuh ucapan selamat,
atau barangkali setangkai mawar yang tak pernah
kau petik sendiri.
Ulangtahunmu, sekarang kau tahu,
adalah langkah yang bergerak hari ini,
dengan atau tanpa sepatumu.
Supaya kau tahu apa arti pergi dan apa arti datang
yang sudah sejak lama terjadi di sini.
Dan pagi ini sebuah pintu dan hari ulangtahunmu,
juga sebuah perjalanan yang suka atau tidak
harus kau mulai. Walau tak ada lagi wajah-wajah
yang dulu sering kau jumpai saat membukanya.
Mei 2005
Amal Bayu Ramdhana
LILIN MERAH
Ada kalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun
yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran
yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya
waktu.
Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan
cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang
manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi
cermin yang membuat kita berkaca—suka atau tidak
pada hasilnya.
Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya
menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai
disembur napas, lilin tersungkur mati di dasar tempat
sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah
sudah.
Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue
hari, kalori bagi kekuatan hati yang tak habis dicerna
usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi
jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap.
Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang
tahun setiap hari.
Filosofi Kopi (Dee, 1998: 95—96)
Rima
oi,,,oi,,,
Wah, telat gak ya, kl cerita2nya sekarang,,,
Kemarin dulu gw nonton konser Tujuh Untuk Depok Bareng Iwan Fals di Brimob Depok tgl 27 Mei. Jujur,,,rasanya agak aneh waktu gw di konser itu. Di awal konser Bang Iwan bilang bhw perasaannya pun gak enak. Gimana enggak, pagi harinya, Sabtu 27 Mei itu, sodara2 kita di Yogya dan Jateng baru aja tertimpa bencana gempa. 4000 orang meninggal cuy! Rasanya bener2 gak enak, saat sodara2 di sana lg menderita, sedangkan gw dan yg lain di sini justru berjingkrak2 nonton konser!! parah lo Ne!
Tapi, gimana ya,,,akhirnya gw pisahin dulu ruang2 di otak gw,,,saat itu gw berpikir "gw harus nikmatin dulu konser seharga 20 ribu ini, baru besok gw nyumbang apapun yg gw punya ke Yogya sana,,,"
Oya, saat pertama kali keluar, bang Iwan muncul bareng Nurmahmudi walikota Depok itu. Yah,,,acara ini emang acara untuk memperingati ultah Kota Depok juga,,,lagian Bang Iwan juga warga Depok kan,,,
Lucunya,,,lagu2 yg kemudian dibawain Bang Iwan dan genknya, terasa bgt penuh sindiran untuk Depok,,,seperti Mimpi Yg Terbeli (msh byk org Depok yg hny bs mimpi utk jd kaya kan?), PHK (wah, ini buat karyawan pabrik2 di Depok yg bulan lalu gak lagi pny kerjaan), Kereta Tiba Pukul Berapa (coba aja tongkrongin kereta di Stasiun Depok, suka telat cuy!), Bongkar (hehe,,,ati2 pak Nur,,,jgn mpe korup!ntar dibongkar rakyat!), juga lagu2 andalan biasanya,,,
Untuk kebutuhan olahraga gw yg gak pernah gw cukupi sebelumnya, ini emang ajang yg bagus bgt buat gw buang keringet! Basah2an keringet, ditambah hujan air pemadam kebakaran yg mungkin aja dr kali Depok yg butek2 itu! Ah, peduli amat, yg penting gw sehat!
Untuk Depok, harga tiket konser kemaren tuh lumayan mahal. Makanya banyak temen2 yg gw temuin bilang kl mereka ada yg nyelip lewat jalan penduduk. Itu sih buat anak2 yg punya kenalan orang2 Brimob yg kebetulan jaga, tp buat anak jauh, yah, nasib mereka ya gak bisa masuk. Makanya lapangan Brimob lumayan kosong. Beda bgt kyk konser Padi yg jg pernah diadain di sana, yg penuh mampus ampe bikin macet jalan Akses UI.
Satu lagi,,,Ming Production selaku EO acara ini, menurut gw kurang komunikatif dg para penonton. Sial, gw bener2 gak tau kl ternyata di salah satu stan ada promo gratis bagi2 perdana XL. Lah, gimana gw bs tau, kl ditiketnya gak ada tulisan bahwa tiket ini bisa dituker perdana gratis itu? Atau panitia yg jual bilang2 kek ke penonton yg beli tiket! Ini bener2 ngerugiin! Minus nih buat Ming!
Ah ya, satu minus lagi, di semua publikasi tertulis bhw acara ini mulai jam 3 sore. Tapi, kenyataannya, mulainya tuh br jam empat! Gila, basi sejam cuy! Mending kl diisi band2 pembuka siapa gitu! Ini sih enggak, garing beneran deh! Nah, kl yang ini gw mesti protes ke mana? Bang Iwan yg telat dateng? Pak Nur yg lama dateng krn sibuk ngurus Depok? Ato Ming yg kurang bs kordinasi sm artisnya? Yah, tolonglah dijawab!
Eh, temen2 OI yg lain gimana ceritanya nih?