Keberagaman? Menarik!

Keberagaman? Menarik!

Hari Rabu sampai Jumat, gw kerja poling Kompas yang mengharuskan gw ngobrol-ngobrol dengan orang Makasar dan Yogyakarta. Menarik! Logat bahasa yang mereka pake mencirikan mereka banget. Di kuping gw, logat itu pasti akan terdengar lucu saat keluar dari mulut anak kecil. Sejak kecil mereka udah hidup dalam dunia bahasa seperti itu, jadi jelas anak-anak itu berdialek seperti yang terdengar dan terpelajari dari orang dewasa di sekitar mereka. Semua itu terdengar menarik di telinga gw. Eh, tapi hal itu jadi kendala juga ya, yang menyulitkan dan membuat gw sempet kesel dan akhirnya bertanya, kenapa mesti ada perbedaan bahasa sih?

Hari Sabtu, gw pergi sama Harry, jenguk Atre yang sakit demam berdarah. (Hmm, baru kemarin ada sejumlah pendapat di poling yang bilang bahwa kerja Sutiyoso untuk peningkatan kesehatan masyarakat Jakarta udah memuaskan, tapi kenapa ya si Atre masih kena DBD juga?) Ah, ya, dalam perjalanan menuju RS, gw naik angkot yang dipenuhi sejumlah penumpang. Seperti kebiasaan mata nganggur di angkot pada umumnya, mata gw jelalatan mengamati muka-muka penumpang lain. Menarik! Di sebelah gw adalah Harry, teman gw yang asli anak Betawi. Di depan gw, ada seorang ibu beserta satu anak gadis dan satu anak kecilnya yang jelas dari suku (?) Tionghoa. Si anak gadis pakai kaos kecil dan celana pendek hingga memperlihatkan kulit putihnya yang sempet bikin iri di hati gw. Trus di samping gw ada seorang ibu yang menggendong anak bayinya. Karena pake tank top dan celana pendek, kulit cokelatnya keliatan jelas. Anaknya berambut keriting kruwel, persis kayak gw waktu kecil. Dulu waktu rambut gw masih kayak gitu, gw dipanggil Eyi Ambon. Hmm, kemungkinan besar ibu ini juga dari suku itu. Trus, di depan gw, ada suami istri tampaknya, yang mukanya kelihatan Jawa banget. (Eh, emang ada ya muka Jawa banget atau enggak?) Yah, begitulah, waktu mereka mau turun dan sibuk merundingkan ongkos angkotnya, keluarlah bahasa Jawa. Lalu, di depan gw juga, duduk manis seorang ibu berkerudung yang hidungnya mancung banget, garis matanya hitam karena pakai sipat alis, badannya besar, ah pokoknya kelihatan seperti orang India. Di bangku artis (bangku tambahan itu loh!) ada dua orang ibu pulang dari pasar yang asyik ngobrol dengan logat Betawinya yang kental banget. Di pojok belakang supir, ada cewe manis yang sering senyum manis. Gak ketahuan dia orang apa. Mungkin orang Padang karena tampaknya seperti itu. Atau ini cuma perkiraan gw aja biar terasa makin keliatan keberagaman asal para penumpang itu?

Hari Minggu, gw pergi ke TMII nemenin Arif nyari bahan buat tugas ujian lansekapnya. Target kami yaitu mendapatkan motif khas Kalimatan, jadi kami fokus nyari-nyari bahan itu di anjungan Kalimantan. Menarik! Sebetulnya ini adalah kunjungan gw yang kesekian kali ke TMII, tapi baru kali ini gw sadar sesadar-sadarnya bahwa TMII adalah sebuah proyek gila. Pertama, gila, gw angkat jempol ke atas untuk ide kreatif cemerlangnya. Dan kedua, gila, gw angkat tangan untuk ide pencarian dananya. Huah, berapa perak tuh duit yang dipake buat membangun satu lamin aja, dengan kayu besi yang kokoh banget, ukiran dan gambar-gambar khas, juga dengan tikar lampit beratus meter persegi? Itu baru satu lamin! Belum rumah panjang yang lain, belum lagi rumah gadang atau tongkonan yang jumlahnya ga cuma satu! Huah, terserah Allah deh mau mengganjar Soeharto dengan apa!

Arif bilang, salah satu dosen lansekapnya ga suka dengan TMII. Bukan karena ga suka budaya Indonesia atau karena ga suka Pak Harto (itu lain hal deh!), tapi karena desain taman di TMII sama semua alias seragam. Katanya, semua taman di anjungan, juga di museum-museumnya, cuma berdasarkan satu konsep yang sama, sehingga malah menenggelamkan ciri dari tiap daerah. Ah, ini keliatan seperti upaya menyeragamkan keberagaman bangsa!

Hhh, coba dipikir lagi, kenapa mesti diseragamkan sih segala perbedaan itu? Apa karena perbedaan itu tampak menakutkan ya?  Ya, bisa juga, kalo kita ingin melihatnya dari sisi itu. Tapi, perbedaan dalam keberagaman tadi bisa menyenangkan juga kok! Makanya, dari tadi gw udah tiga kali bilang, menarik! Gw sumpah susah banget waktu harus menanggapi bahasa Makasar atau Jawa itu, tapi susahnya itu ga gw anggap sebagai hal yang menakutkan. Anggap aja itu teka-teki silang yang bikin dahi kita berkerut tapi bikin senyum mengembang segede-gedenya saat berhasil ketemu jawabannya. Seangkot sama cewe Cina yang putih mulus atau ibu India yang mancung banget emang bikin mupeng yang kalo didramatisasi banget, bisa bikin gw iri, dengki, sirik, dendam, lalu membenci mereka. Untungnya, iri dan kawan-kawannya itu ga datang ke hati gw. Hitam gw manis kok, pesek gw lucu kok, hehe. Tinggal gimana gw berbaik-baik dengan semua hal itu kan? Lagian kalo semua orang putih dan mancung, dan kemudian ga ada keberagaman, mau jadi apa dunia ini? Waallahu alam yah…

Indonesiayang dipenuhi beragam suku bangsa sebetulnya masalah biasa yang sudah amat biasa gw ketahui, tapi kenapa ya, nyatanya beberapa hari belakangan ini hal itu jadi terasa beda di mata gw?

3 Responses to “Keberagaman? Menarik!”

  1. ShintaPS Says:

    Mami Nelli, aye nge-link kesini yeee.. ;)

  2. Finding Rio Says:

    hei, nice blog.

    Iya nih ne,gue juga bingung kenapa orang2 indonesia takut banget PERBEDAAN. Andai saja orang Indonesia bisa seperti kita: gue nggak pernah protes kenapa elo pak jilbab; elo juga nggak pernah protes kenapa gue ngak pernah sholat. hahahaha.

    sampai ketemu! gue lagi SP nih, Dasar Dasar Filsafat.. sialan. :)
    Rio_damar

  3. arne Says:

    nah Riyow,,,itulah indahnya perbedaan kan,,,bahkan di diri gw pun perbedaan itu tumpuk2an,,,gw yakin lo juga,,,makanya kan lo gila ikut ddf sendirian,,,haiyah,,,senasib kayak SKI yak,,,hehe,,,selamat!

Leave a Reply