Kenapa Takut Sendiri
Kenapa takut sendiri?
Gw dapet ilmu lagi tentang kesendirian. Inget ga waktu Pak Harto (ups, masih seputar Pak Harto nih!) ulang tahun Juni kemarin, banyak orang dari daerah yang datang ke depan rumahnya, berdoa beramai-ramai untuk kesembuhannya dan mengucapkan ”Selamat ulang tahun, Pak!” Serombongan ibu-ibu dari Bandung bahkan pake kaos seragam yang isinya kurang lebih mendukung Pak Harto. Dan atas semua itu, pihak Cendana bilang, mereka sama sekali ga mendatangkan orang-orang itu. ”Itu sih emang para pendukung Bapak saja”, gitu kali kira-kira jawaban dari The Cendana’s. Tapi masak iya, orang-orang kecil itu segitu relanya bikin kaos dukungan buat Pak Harto dan naik bis jauh-jauh dari Bandung cuma buat nongkrong di depan pager Cendana, tanpa ada yang mempersilakan makan nasi kuning atau blackforest ultah di rumah maha gede itu? Haha…jelas lebih mending pergi tour ke Bali sekalian, naik bis AC dan bikin kaos bertuliskan Jalan-Jalan Hepi ke Bali!
Tampaknya ya, keluarga Cendana itu takut kalo ditinggal sendirian. Takut saat kehilangan orang-orang yang dulu ada di sekitar dia dan mungkin mendukung dia. Maka bersibuk-sibuklah mereka menghadirkan ’rombongan tepuk tangan’ untuk acara ultah si Bapak itu. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa mesti takut sendiri? Ah, jelas, siapa pula yang ingin hidup tanpa teman di dunia ini? Tapi, apa guna kalau mereka hanya teman saat butuh aja? Dan apa pula guna orang yang sangat kita harapkan untuk selalu ada di dekat kita, tapi sebetulnya dia itu sudah tak ingin di dekat kita lagi? Ah, silakanlah malu karena mengemis untuk minta ditemani! Daripada repot mencari seorang atau sejumlah orang yang mau berdekat-dekat dengan diri kita, lebih baik perdekat diri dengan teman-teman yang ada. Karena nyatanya kita suka buta, semut di seberang lautan tampak, sedangkan gajah di depan mata tak tampak, atau sengaja ditidaktampakkan. Dan, kalaupun akhirnya semut yang dibutuhkan itu tak didapatkan, kenapa mesti takut untuk menjadi sendiri? Hmm, kalau gw seperti itu, dan mungkin juga kalian, ada baiknya gw dan kalian baca 3 puisi di bawah ini berkali-kali. Tiga puisi ini datang saat gw berulang tahun Mei lalu. Tentunya, bukan ulang tahun yang mengerahkan bala tepuk riang gembira dari negeri seberang sana.
awan menggantung rendah
datang untuk bernyanyi sepi
maaf…
ini bukan kehendakku
ternyata musim hujan datang lebih cepat
ke jendela kamarmu…
sesekali salju akan mampir membakarmu
menyeret paksa titik-titik airmata
sampai saat itu datang
berpikir sajalah tentang hujan
tentang titik air yang mengikat
langit dan lautan…
kau akan berhenti menangis
dipaksa senja yang tergantung manja
ya, kau akan berhenti menangis
untuk satu hari ini saja…
4 Mei 2006
Catra
PINTU
Pagi ini sebuah pintu dan hari ulangtahunmu.
Kau merasakan apa ketika ingin membukanya
Kemudian yang lolos begitu saja dari kepalamu,
sebaris waktu yang telah menjadi kubur-kubur
hingga selintas wangi tubuh yang
akan membuatmu rindu,
sempatkah kau mengingatnya?
Ah, kau hanya perlu mengucapkan
selamat pagi, tidak lainnya. Sambil lalu saja.
Tidak untuk mengenangnya, sebab kau tahu
akan menjadi gelisah karenanya.
Membuatmu tampak begitu lunak.
Padahal siang nanti matahari tak lagi ramah kepadamu,
dan ingin mengajarimu beberapa kata
yang mungkin akan mulai kau cari maknanya
saat malam tiba, lalu menjadi bagian mimpimu.
Dan ulangtahunmu tak berhak lagi kau rayakan
ketika hari berubah menjadi besok.
Untuk apa pula menjadi cemas
hanya karena tak ada lagi yang datang menyalami
dan hari begitu sepi.
Yang kita sadari, cerita tentang hari akan terus berganti.
Tentang sebuah kemarin yang telah jatuh
lalu terinjak-injak di sini. Tentang sebuah lusa yang harus berhati-hati
karena telah diberi janji.
Selebihnya pintu telah menjadi saksi.
Pintu menunggumu berdiri dan ingin kau melewatinya.
Sederhana saja, karena begitu ingin mendengarmu
menyusun siasat hari ini,
agar segera kau tunaikan satu keharusan,
agar tak lagi kau lemparkan sederet keluhan yang
sering menempati sudutnya.
Yang tak suka jika kau bohongi.
Kau bukan lagi seorang yang mudah terhibur oleh
sebuah kado kecil yang tiba di tanganmu,
suatu hari yang penuh ucapan selamat,
atau barangkali setangkai mawar yang tak pernah
kau petik sendiri.
Ulangtahunmu, sekarang kau tahu,
adalah langkah yang bergerak hari ini,
dengan atau tanpa sepatumu.
Supaya kau tahu apa arti pergi dan apa arti datang
yang sudah sejak lama terjadi di sini.
Dan pagi ini sebuah pintu dan hari ulangtahunmu,
juga sebuah perjalanan yang suka atau tidak
harus kau mulai. Walau tak ada lagi wajah-wajah
yang dulu sering kau jumpai saat membukanya.
Mei 2005
Amal Bayu Ramdhana
LILIN MERAH
Ada kalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun
yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran
yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya
waktu.
Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan
cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang
manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi
cermin yang membuat kita berkaca—suka atau tidak
pada hasilnya.
Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya
menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai
disembur napas, lilin tersungkur mati di dasar tempat
sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah
sudah.
Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue
hari, kalori bagi kekuatan hati yang tak habis dicerna
usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi
jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap.
Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang
tahun setiap hari.
Filosofi Kopi (Dee, 1998: 95—96)
Rima
June 20th, 2006 at 9:42 am
tapi kenapa gak coba liat dari sisi lain?
kalo melihat dari sudut pandang itu, pertanyaan seperti jakmania yang selalu menggunakan baju berwarna jingga ataupun slankers yang menggunakan atribut berbau slank dari atas ampe bawah juga sah-sah saja untuk dipertanyakan kembali. Apakah itu memang katarsis mereka sebagai penggemar atau dibayar oleh pihak “managemen”?
dan, setiap orang mempunyai kebenaran masing2 untuk melancangkan pertanyaannya.
itulah perbedaan masyarakat. menarik?
waw, seru bgt kerja di kompas!!!! aku iri!!! hehehe,,,
June 20th, 2006 at 9:10 pm
ya,,,ya,,,ada satu ya yang gw lupa,,,gw lupa Pak Harto juga punya fans! kalo Jakmania ato Slankers sih gw gak tau pasti, beberapa Slakers yang gw tau emg bener2 maniak Slank (dan gw pikir ini agak mengenaskan kl cm maniak tanpa tau makna). Kl dari manajemen Pulau Biru yang mengumbar segala hal berbau Slank, ah, ini jelas ada. Gw gak usah mungkir, itu industri musik kan, yg semakin digembar-gemborkan semakin bersinarlah dia! Hmm, dunia ya -i-, penuh perbedaan, tapi sumpah gw suka! =)