Archive for July, 2006

nangisin smp

Saturday, July 29th, 2006

Kalau tadi gw sempet menjatuhkan airmata di pesta perkawinan guru smp gw, mungkin orang2 akan menganggap itu adalah kejadian yang mirip dengan adegan di sinetron2 yang sering dilihat ibu2 di tv. Untungnya, airmata gw gak jadi jatuh. Dan kalau pun sempet jatuh, itu sama sekali gak mirip dengan adegan di sinetron, karena itu terjadi bukan karena gw ditinggal sang guru yang ternyata pacar gw, atau gw inget mantan pacar yang gak jadi ngajak nikah, atau gw iri sama ibu2 di sana yang pake perhiasan yang buanyak bgt di sekujur tubuhnya, atau karena iri gak bisa makan banyak sampe gak tau malu kayak orang2 (dan bersisa pula!). Bukan, bukan itu! Airmata yang sempet ngambang di mata gw tadi juga bukan karena haru, meskipun gw jelas turut berbahagia karena guru gw itu akhirnya menikah setelah melajang selama 45 tahun.

Yang menikah itu guru smp gw. Yang datang itu, guru2 smp gw, teman2 smp gw, kaka2 dan adik2 kelas smp gw, juga segala kenangan smp gw. Yang terakhir datang ini yang menyebabkan datangnya airmata itu. Melihat guru2 smp itu, mendadak segala pandangan yang sudah terbentuk di masa lalu berubah sekejap. Segala pandangan masa remaja muda yang sesekali melihat guru2 sebagai makhluk menyebalkan, yang hanya bisa memarahi muridnya, yang memberi segudang tugas yang membuat lelah, dan segala hal yang minus yang ada. Tapi tadi, bertemu setelah berpisah 6 tahun, dengan segala penambahan kematangan jiwa, dengan situasi nonformal yang penuh kekeluargaan, mata ini tiba2 melihat hal2 yang tak terlihat di masa lalu.

Guru2 smpku semakin tua, banyak kerut di wajahnya. Sepertinya lelah mengajar bertahun2 di sana. Tapi, mungkin juga mereka tidak lelah. Melihat mereka tersenyum lebar padaku, sambil berusaha mengingat2 siapa namaku, bertanya kemajuan apa yang sudah kudapat, membuat hati tersiram lelehan coklat patah hati. Ya, rasanya sedih.

Gw yakin mereka sebetulnya bersenanghati bertemu dengan gw, anak didiknya yang mulai beranjak jadi orang. Tapi, kenapa justru sedih yang gw rasakan. Lalu berjuta2 kenangan terkorek. Temanku bilang:
“eh, masih inget gak, dulu si anu kan pernah nimpuk2in pak itu pake kapur!”
“eh, bu itu kan dulu galak bgt ya, anak2 manggil dia bu pithecanthropus!, haha…”
“eh, itu kan pak jengkol, lagian kata anak2 mulutnya selalu bau jengkol, haha!”

ahh, apa semua itu masih laku? Sekarang? Airmata gw semakin mau jatuh!
Ugh, jadi inget lagu Slank, TUT WURI HANDAYANI!

anak muda harus sekolah
gak boleh menganggur
untuk bekal di masa depan
biar besar gak jadi preman

lompat pager bolos
kantin tempat nongkrong
di kelas ngerokok
no no no

sahabat diklepto
bego langsung DO
di WC kepergok
auw auw auw

giatlah berolahraga
ikut ekstrakurikuler
rajin-rajin belajar
giatlah menuntut ilmu

yang culun di kompa]
yang pinter diancem
salah dikit brantem
ah ah ah

cari gara-gara
perang antar sekolah
beraninya kroyokan
tawuran

Usul: Superman Jadi Presiden Indonesia Aja!

Monday, July 24th, 2006

Pertanyaannya bukan, why world needs Superman, tapi kenapa Indonesia butuh Superman? Nomor satu, kita butuh presiden ganteng, yang siap sedia setiap saat, bisa ganti baju cepet, bahkan punya salon supercepet yang bisa mengubah tatanan rambut standar jadi rambut berjambul yang supergaya.

Trus, kita juga butuh presiden yang gak perlu sibuk merancang RUU APP. Malah kalo bisa, presiden harus dijadiin tauladan berbaju ketat dan yang kian seksi dengan celana dalamnya yang tidak berada di dalam itu. Dan mas Brandon, uuwhh…

Kita juga butuh presiden yang bisa menanggulangi bencana. Ah, Superman inilah kandidat yang tepat, krn dia bukan sekedar menanggulangi, tetapi bahkan mencegah! Pulau yang bikin tsunami bisa diangkat, kobaran api bisa ditiup, juga bisa bikin selubung yang melapisi dari runtuhan gedung atau kaca. Wah, banjir lumpur mah cuma semenit dia atasi, air bah cuma sekepretan dia tahan, pesawat2 bobrok milik maskapai penerbangan ecek2 bisa bebas terbang, gak takut jatoh, toh presidennya Superman! Wah, berarti masyarakat gak perlu deg2an sama ramalan tukang luarnormal yang bilang daerah istimewa ketiga di Indonesia bakal kena bencana dahsyat!

Kebayang dong, bencana aja bisa teratasi, apalagi cuma kriminalitas buatan orang. Korupsi? Yah, baru bisik2 rencana di kantor MA aja udah bakal kedengeran, jadi boro2 bisa ngumpulin duit trilyunan!

Presiden juga harus punya pandangan yang jauh ke depan, sukur2 pandangan tembus pandang, kayak Superman. Haha, kayaknya percuma ya Lois Lane pake baju setebel apapun, apalagi cuma gaun, basah pula! Hmm, pantesan, kayaknya gw tau nih bocah cakep yang namanya Jason itu anaknya siapa. Eh, tapi, emangnya Superman punya sperma? Hmm, tapi kayanya cewe2 bakalan seneng2 aja kl bisa tidur sama Superman, bibit unggul gitu loh!

Oh ya, Superman bilang, “I am always around.” Waah, dia ada di mana2, kayak Tuhan aja! Eh, eh, tapi Tuhan gw kebal sama krypton! Uh, alhamdulillah, untung Tuhan gw gak keliatan, jd gw gak perlu sibuk2 malu kl Tuhan gw ternyata pake celana dalem doang. Waalahualam ya. Oh, man, gw lupa kalo dia cuma man! Aha, dia emang bukan Tuhan, tapi Ratu Adil! Eh, bukan ratu juga sih, kan dia laki-laki! Tapi, sosok Ratu Adil ini yang emang dinanti2 orang Indonesia. Dan katanya sih yang bisa jadi presiden Indonesia emang cuma Ratu Adil aja. Jadi, Superman ini si Ratu Adil presiden kita!

Ah, always around gimana? Kayaknya dia cuma sekali maen2 ke Asia, itu juga cuma mampir di Manila, gak ke Indonesia, sisanya berkutat di Amrik aja. Eh, tapi, dia cinta tanah air berarti! Hebat, kandidat presiden yang baik! Kita minta aja dia pindah kewarganegaraan, pasti mau deh! Caranya, rayu dia, dia kan hobi bgt tuh memberantas kejahatan atau bencana, pasti dia seneng bgt kl dikasih tinggal di gudangnya kejahatan dan bencana!

Kita juga butuh sosok presiden yang misterius buat Indonesia. Grup musik Mocca udah merekomendasikan tuh dari album pertamanya, “full of secret like Clark Kent”. Nah, kan, si Clark Kent Superman ini yang kita cari! Kan kl misterius jadi enak, presiden bisa ngapa2in negaranya, tapi tindakannya gak terdeteksi! Gimana bisa dideteksi, wong kecepatannya geraknya aja kayak kecepatan cahaya!

Dan seperti yang dibilang di bioskop2, Superman tuh buat semua umur. Semua umur, maksudnya, semua orang, butuh presiden jagoan yang gak pernah mati. Semua orang pasti mencintainya, anak2 kecil yang bingung dia bisa terbang kayak burung piaraannya, cewe2 yang berharap punya pacar yang bisa bikin terbang (gak cuma terbangin hati, tapi ngajak terbang beneran!), cowo2 yang pengen punya body segagah dia (bisnis gym pasti laku!), juga orang2 tua yang pengen nikmatin hari tuanya dengan aman sentosa. Owh, co cwiiitttt…

Jadi, kayaknya gw harus segera bawa usul ini ke para wakil rakyat, secepetnya, sebelumnya Indonesia makin gila, atau tergila2 sama Superman. Setuju?

Parodi Ongkos Angkot

Tuesday, July 18th, 2006

Parodi Ongkos Angkot

Buat yang terbiasa naik angkot, pasti pernah mendapati situasi paksa-memaksa traktir ongkos. Seperti ini, suatu hari saya naik angkot dari Pasar Pal. Angkot lumayan penuh. Di samping saya duduk seorang ibu-ibu dengan barang belanjaannya yang memenuhi ruang. Tak seberapa lama, naik seorang ibu-ibu dengan barang belanjaan sebanyak ibu-ibu di samping saya itu. “Eh, Bu Anu, dari pasar, Bu?” tegur ibu-ibu yang duduk di samping saya. Ya jelas jawab ibu-ibu yang satunya lagi itu, “Eh, oh, iya, Bu Entu”. Lalu, ramailah angkot, walau suara hanya muncul dari dua orang ibu-ibu tadi. Lali, bu Entu akan segera turun, ia mengeluarkan recehan dari dalam dompetnya yang bertuliskan Tugu Mas.

“Udah, sama saya aja,” kata bu Anu, sambil tak bergerak sedikit pun.

“Ah, ini ada kok,” kata bu Entu, sambil tetap mencari duitnya yang tak ketemu2.

“Eh, udah, saya kan belakangan.”

“Ahh…udah, ini, situ sama saya aja,” kata bu Entu sambil menggenggam ongkos untuk 2 orang.

“Eh, gimana sih, ini sama saya aja,” kata bu Anu, sambil mencari dompet di sela himpitan plastik bayam dan kelapa muda.

“Ah, udah gak papa, biar duluan.”

“Eeeh, bener loh, sama saya aja. Aduh, ini mana ya?” sahut bu Anu yang makin kesulitan mencari dompet, susah diambil karena terjepit ikan asin.

“Udah lah, ini udah mau turun kok. Duluan ya, Bu. Salam loh buat bapaknya. Eh, kiri…kiri…Bang, iya stop, stop…”

“Ealah, aduh makasih loh Bu, aduh, stop Bang, ati-ati Bu…”

Dompet yang sudah berhasil diambil bu Anu sejak tadi, buru2 dimasukkan lagi ke dalam tas kresek hitamnya.

Tak berapa lama, bu Anu turun.

“Kiri bang, iya…sini, kiri!”

Sambil turun, “tadi udah, ya, Bang ongkosnya.”

Sang sopir hanya diam dan kembali menekan gas.

Kemarin, buat saya yang tidak terbiasa naik angkot bersama orang asing, kebetulan saya tidak menemui situasi paksa-memaksa traktir ongkos. Sore itu saya dan teman2 mengantar teman2 dari Korea untuk berbelanja ke Giant Cimanggis. Kami berdelapan di angkot, 4 orang Indonesia dan 4 orang Korea. Sebelum turun, kami teman2 Indonesia ini saling berpandangan, bertanya2 bagaimana bayar ongkos angkot ini, bayar masing2 atau kami bayarkan mereka juga. Kami pilih yang kedua. Hm, kami mengumpulkan 12 ribu rupiah, patungan dari uang pribadi kami yang tak seberapa. Melihat adegan kami sibuk menyatukan uang, mereka pun sibuk mengeluarkan dompet. Salah seorang dari orang Korea itu, Si Anu, mengeluarkan uang 50 ribu rupiah.

“Ah, berapa?”

“Dua belas ribu,” sahut teman saya.

“Ini,” kata Si Anu sambil menyodorkan uang itu.

“Tidak, tidak usah, kami saja yang membayar,” sahut teman saya lagi.

“Ahh, ini,” Si Anu kembali menyodorkan uangnya, sambil memelas.

“Dia orang kaya, haha…” kata teman Si Anu.

“Ah, tidak, tidak, dia orang kaya,” kata Si Anu membalas.

“Sudah, saya orang kaya,” kata teman saya, sambil nyengir memamerkan uang 12 ribu yang sudah terkumpul.

“Ahhh…ya,” sahut keempat orang Korea itu, serempak.

Hmm, kenapa ya, ada situasi paksa-memaksa traktir ongkos?

Apa orang Korea terbiasa dengan sigap menunaikan kewajibannya,  segera mengeluarkan uang yang ia punya untuk membayar ongkos angkot?

Apa orang Indonesia terbiasa melakukan tipu muslihat, sibuk mencari2 dompet yang sebenarnya tak susah diraih, demi berlama2, sambil menanti tawaran traktir menguat?

Apa orang Korea memang dengan mudah dan lapang hati menerima kebaikan orang lain?

Apa orang Indonesia memang senang paksa-paksaan, atau sengaja pura2 dipaksa, maka jadinya menolak bantuan yang berbuntut panjang?

Apa orang Korea memang tidak biasa berbasa-basi untuk saling melempar2 kebaikan bantuan dari temannya?

Apa orang Indonesia senang berpura2 menolak bantuan dari orang lain walaupun sebenarnya dia pun ingin dibantu?

Hmm, kenapa ya, ada situasi paksa-memaksa traktir ongkos?

Ah, saya tak memaksa pembaca untuk menjawab kok! =D