Ayo, dipilih…dipilih…!!!
Saya akan jadi terlihat kurang ajar sekali kalau menyamakan Tuhan dengan pedagang sandal jepit di Pasar Senen. Tapi, pedagang sandal jepit hampir sama dengan Tuhan, karena dia menyediakan beragam pilihan sandal jepit yang siap dibeli dan dipakai orang. Eh, Tuhan tidak berjualan sandal, ya? Ah, ya, maksudnya, sama-sama menyediakan berbagai pilihan.
Sialnya, karena pedagang juga manusia, dia harus sibuk tarik suara untuk menawarkan sandal beragam pilihan itu. Ada banyak warna; mejikuhibiniu, belang-belang, garis-garis, dan totol-totol. Ada banyak ukuran; S, M, L, XL, eh, 8, 9, 10, dan seterusnya. Model juga bermacam-macam, tak kalah apiklah dengan yang dipamerkan di etalase mal. Beragam pilihan itu menanti untuk dibeli, membuat si pedagang berkicau riang menawarkan sandal-sandal itu.
Kalau Tuhan, jelas tak perlu sibuk-sibuk menawarkan beragam pilihan seperti pedagang sandal jepit itu. Ia sudah menyiapkan qodo dan qodar untuk tiap manusia. Lalu, ketika manusia itu menjalani kehidupannya, terbentanglah sejumlah pilihan di depan mata. “Silakan pilih!” kata Tuhan. Supaya tidak terlalu pusing memilih, Tuhan memberi berjuta contoh pengalaman manusia hitam putih yang telah hidup sebelumnya. Diberikan pula kitab suci yang bisa dijadikan kompas. Kalau pilih yang ini resikonya itu, kalau pilih yang itu resikonya ini. Gampang? Ya, gampang-gampang susah!
Tuhan sudah amat baik hati memberi sejumlah pilihan, tetapi kadang-kadang malah diprotes manusia. Padahal, kalau pedagang sandal jepit tidak menyediakan banyak pilihan warna atau ukuran, biasanya malah diprotes orang-orang juga. Jadi, tak ada pilihan atau ada banyak pilihan sama-sama diprotes, ya?
Kemarin, sebuah keluhan keluar dari adik teman saya. Dia mengeluh karena mesti menghadapi dua pilihan, masuk D3 UI atau S1 Unpad. Dia pusing, semakin ditimbang-timbang malah semakin pusing. Makanya, sempat pula ia mengeluh, tak ada dua pilihan begini barangkali akan lebih baik.
Adik teman saya yang lain pusing juga. Ia tidak lolos ujian SPMB, tak ada satu jurusan pun yang nyangkut. Sebetulnya dia lulus ujian masuk Unpad, tapi orangtuanya tidak mengizinkan dia tinggal di Bandung. Orangtuanya menawarkan pilihan lain, banyak pilihan lain, asal si anak kuliah di Jakarta saja. Tapi, si anak justru makin pusing.
Seperti memilih sandal, kita senang karena ada banyak pilihan, tetapi akhirnya kita sendiri yang pusing menentukan pilihan. Sudah begini, kita tanya pendapat si abang pedagang, “mana yang lebih bagus, yang belang-belang atau yang polos?” Eh, si abang bilang, “dua-duanya bagus, neng, ambil aja dua-duanya!” Yah, kan, judulnya memilih, kepinginnya ya satu saja yang terpilih, bukan? Nah, makin pusinglah kita! Beruntung kalau ada sandal yang bisa bicara, membantu kita keluar dari kepusingan dengan berkata, “tak perlu kau memilihku, aku lelaki (eh, sandal) bukan tuk dipilih…” macam Iwan Fals bernyanyi lagu “Aku Bukan Pilihan”.
Pilihan yang sudah kita ambil kadang-kadang menuai banyak komentar dari lingkungan. Itu resiko. Bukan berarti karena orang-orang selalu bermulut usil, tetapi karena orang-orang memang punya mulut. Hari ini, teman saya memilih untuk melepas jilbab setelah dua tahun ia memakainya. Katanya, pilihan ini telah melewati pemikiran yang cukup panjang. Keputusan yang diambil, menurutnya, telah melewati penyaringan, tentu dengan mempertimbangkan faktor lingkungan dan hati sendiri. Pusing? Jelas! Tapi, akhirnya dia harus memilih. Dengan keberanian penuh, ia pun memilih. Segala resiko, jelas hanya dia sendiri yang bisa menanggung. Termasuk komentar dari berupa-rupa mulut tadi.
Pilihan apapun yang diambil, semoga berdasarkan pertimbangan matang tentunya. Tuhan sudah memberi pilihan, maka pilih, ambil, dan jalanilah. Pedagang sudah menawarkan beragam sandal jepit, maka pilih, beli, dan jepitlah. Saya yakin, kita tentu tidak mau membeli sandal hanya karena terprovokasi si pedagang. Masak hanya karena sandal itu ternyata tidak cocok setelah dipakai, kita lalu marah-marah, “Abang provokator sih, bilangnya ‘ayo, dipilih… dipilih…’ terus!!!”
August 12th, 2006 at 10:12 pm
gw ga ngarti…. Menurut gw pilihan yang kita ambil harus berdasarkan dasar yang benar2 kuat… bukan bedasar dari kita sendiri dan tanpa di landasi ego sendiri….
Kalo bingung memilih…
Serahkan pada yang diatas…
Sholat Istihoroh lah….
itu adalah tindakan yang terbaik… agar Alloh SWT yang memilihkan intuk kita……..
August 16th, 2006 at 1:16 am
saya setuju sama pendapat kamu, Luthfi,,, semua yang kita pilih memang harus berdasarkan dasar2 yang kuat,,,makanya beruntunglah kita yang diberi dasar2 aturan oleh lingkungan, juga dr agama,,, tapi, lagi2 karena yang memutuskan itu kita sendiri,jadilah keinginan kita juga yang bertindak,,, dilandasi ego perlu juga,dan biar seimbang dilandasi juga oleh dasar2 tadi,,,