Jelas, Tuhan lebih hebat daripada kamus karena di usia gw yang begini muda, Ia telah menyuguhkan gw kehebatan makna kata ‘maaf’. Kata itu, dengan segala kata atau imbuhan yang dapat menyertainya, ternyata memberi luapan pelajaran untuk gw. Bukan seperti luapan lumpur Sidoarjo yang menyengsarakan rakyat, luapan ilmu maaf ini malah memberi berjuta manfaat.
Kemarin, seorang sahabat mendatangi gw dan kemudian berkisah dengan tersedu-sedu. Katanya, ia baru saja dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Katanya lagi, rasanya 1000 kali lebih sakit daripada dibohongi lelaki yang pernah disayanginya. Rasa sakit itu membuatnya gak mampu memberi maaf pada sahabatnya itu, meskipun sang sahabat sudah menghasilkan bertangki-tangki air mata.
Beberapa hari ini, dengan penuh kesadaran, gw menempati posisi sahabatnya sahabat gw itu. Dengan kasus yang berbeda, gw telah membuat kesalahan dan merasa telah menyakiti orang lain. Gak tanggung-tanggung, dua orang sekaligus! Kalau gw berkolaborasi dengan sahabatnya sahabat gw itu, gw bisa buat perusahaan air dengan persediaan tangki dalam jumlah banyak. Tapi, jelas gak akan laku terjual karena air itu asin sebab orang-orang menamainya air mata.
Dan memang, air mata kami gak laku untuk orang-orang yang tersakiti. Air mata gak akan bisa begitu aja mengubah kobaran api menjadi padam. Sakit hati itu seperti bara api di lahan gambut, yang gak mudah padam walau air menyiram-nyiram.
Maka yang harus dilakukan adalah mengakui kesalahan. Kalau perlu, buat pernyataan dosa jika memang akan melegakan. Dan gw lakukan itu. Dan sahabatnya sahabat gw pun lakukan itu. Semuanya jelas butuh keberanian. Gw pun memberani-beranikan, seperti anak kecil yang baru belajar naik sepeda. Siap terjatuh-jatuh dengan harapan nanti kan dapat mengayuh dengan gembira.
Setelah itu, tibalah waktunya tampil adegan utama. Sebuah dialog hebat diharapkan akan keluar. Tapi sebelumnya, gw harus bermonolog dengan satu kata: maaf. Mengemislah gw, meminta maaf. Dan seperti kenormalan manusia yang gak pernah merasa puas, gw meminta lawan main gw memberi kebebasan gw untuk berharap. Berharap dimaafkan, berharap jangan dibenci, berharap dapat tetap berkawan, dan berharap semua dapat kembali baik-baik aja. Ah, kurang ajar banget gw, ya? Banyak maunya!
Kalau sadar bahwa kurang ajar, seharusnya gw harus rela menerima jika orang-orang yang tersakiti itu ingin memberi gw hukuman. Seperti pengakuan sahabat gw itu, ia ingin memberi sedikit hukuman pada orang yang sudah menyakitinya. Caranya, yah…dengan mengulur-ulur pemberian maaf. Gw pun merasakan, itu adalah hukuman yang sangat menyiksa!
Kalau udah begitu, gw hanya bisa berharap, orang yang sakit karena gw itu akan ingat kata-kata Rasulullah. Kalau bertengkar, jangan lebih dari 3 hari. Segeralah berbaikan. Dasar, kalau begini aja, baru gw inget kata-kata Nabi!
Untungnya, gw sangat beruntung! Orang-orang objek penderita gw adalah orang-orang baik. Yang satu, dengan santainya memaafkan gw. Yang satu lagi, dengan agak rumit–meskipun dia bilang dengan mudahnya–juga memaafkan gw. Lalu gw, sebagai orang yang dimaafkan, benar-benar mendapatkan angin sepoy kala Depok panasnya 40 derajat celcius. Benar-benar menyegarkan…
Kuntowijoyo benar, orang itu bukan garam, maka jangan dianggap sama asinnya. Gw harus mengerti bahwa tiap orang punya gaya yang berbeda dalam meminta dan memberi maaf. Keduanya–meminta atau meberi–sama-sama sulit. Gw gak tau kadar pasti mana yang lebih sulit, kamus pun gak tau, cuma Tuhan yang tau. Tapi sesulit apapun itu, toh tetap harus dicoba.
Gw selalu ingin belajar apapun, juga belajar menjadi bijak. Belajar meminta maaf dan belajar memberi maaf. Semua memang berkait dengan waktu, tapi berlama-lama menahan maaf, tampaknya gak bijak juga. Gw tau betul rasanya, seperti: jam 12 malam dalam tubuh saya, seperti kata Malna. Seorang kawan baik gw membuktikan, saat dia memberi maaf, dia mendapatkan kelegaan. Sama seperti yang dirasakan orang yang menerima maaf itu.
Semoga, sahabat gw segera memberi maaf untuk sahabatnya. Dan kelak dia tak boleh menampik kata terima kasih, seperti yang juga gw ucapkan, karena dunia perkawanan sangat bersinar sebagai harta yang berharga!