maaf,,, (bagian2)

Jelas, Tuhan lebih hebat daripada kamus karena di usia gw yang begini muda, Ia telah menyuguhkan gw kehebatan makna kata ‘maaf’. Kata itu, dengan segala kata atau imbuhan yang dapat menyertainya, ternyata memberi luapan pelajaran untuk gw. Bukan seperti luapan lumpur Sidoarjo yang menyengsarakan rakyat, luapan ilmu maaf ini malah memberi berjuta manfaat.

Kemarin, seorang sahabat mendatangi gw dan kemudian berkisah dengan tersedu-sedu. Katanya, ia baru saja dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Katanya lagi, rasanya 1000 kali lebih sakit daripada dibohongi lelaki yang pernah disayanginya. Rasa sakit itu membuatnya gak mampu memberi maaf pada sahabatnya itu, meskipun sang sahabat sudah menghasilkan bertangki-tangki air mata.

Beberapa hari ini, dengan penuh kesadaran, gw menempati posisi sahabatnya sahabat gw itu. Dengan kasus yang berbeda, gw telah membuat kesalahan dan merasa telah menyakiti orang lain. Gak tanggung-tanggung, dua orang sekaligus! Kalau gw berkolaborasi dengan sahabatnya sahabat gw itu, gw bisa buat perusahaan air dengan persediaan tangki dalam jumlah banyak. Tapi, jelas gak akan laku terjual karena air itu asin sebab orang-orang menamainya air mata.

Dan memang, air mata kami gak laku untuk orang-orang yang tersakiti. Air mata gak akan bisa begitu aja mengubah kobaran api menjadi padam. Sakit hati itu seperti bara api di lahan gambut, yang gak mudah padam walau air menyiram-nyiram.

Maka yang harus dilakukan adalah mengakui kesalahan. Kalau perlu, buat pernyataan dosa jika memang akan melegakan. Dan gw lakukan itu. Dan sahabatnya sahabat gw pun lakukan itu. Semuanya jelas butuh keberanian. Gw pun memberani-beranikan, seperti anak kecil yang baru belajar naik sepeda. Siap terjatuh-jatuh dengan harapan nanti kan dapat mengayuh dengan gembira.

Setelah itu, tibalah waktunya tampil adegan utama. Sebuah dialog hebat diharapkan akan keluar. Tapi sebelumnya, gw harus bermonolog dengan satu kata: maaf. Mengemislah gw, meminta maaf. Dan seperti kenormalan manusia yang gak pernah merasa puas, gw meminta lawan main gw memberi kebebasan gw untuk berharap. Berharap dimaafkan, berharap jangan dibenci, berharap dapat tetap berkawan, dan berharap semua dapat kembali baik-baik aja. Ah, kurang ajar banget gw, ya? Banyak maunya!

Kalau sadar bahwa kurang ajar, seharusnya gw harus rela menerima jika orang-orang yang tersakiti itu ingin memberi gw hukuman. Seperti pengakuan sahabat gw itu, ia ingin memberi sedikit hukuman pada orang yang sudah menyakitinya. Caranya, yah…dengan mengulur-ulur pemberian maaf. Gw pun merasakan, itu adalah hukuman yang sangat menyiksa!

Kalau udah begitu, gw hanya bisa berharap, orang yang sakit karena gw itu akan ingat kata-kata Rasulullah. Kalau bertengkar, jangan lebih dari 3 hari. Segeralah berbaikan. Dasar, kalau begini aja, baru gw inget kata-kata Nabi!

Untungnya, gw sangat beruntung! Orang-orang objek penderita gw adalah orang-orang baik. Yang satu, dengan santainya memaafkan gw. Yang satu lagi, dengan agak rumit–meskipun dia bilang dengan mudahnya–juga memaafkan gw. Lalu gw, sebagai orang yang dimaafkan, benar-benar mendapatkan angin sepoy kala Depok panasnya 40 derajat celcius. Benar-benar menyegarkan…

Kuntowijoyo benar, orang itu bukan garam, maka jangan dianggap sama asinnya. Gw harus mengerti bahwa tiap orang punya gaya yang berbeda dalam meminta dan memberi maaf. Keduanya–meminta atau meberi–sama-sama sulit. Gw gak tau kadar pasti mana yang lebih sulit, kamus pun gak tau, cuma Tuhan yang tau. Tapi sesulit apapun itu, toh tetap harus dicoba.

Gw selalu ingin belajar apapun, juga belajar menjadi bijak. Belajar meminta maaf dan belajar memberi maaf. Semua memang berkait dengan waktu, tapi berlama-lama menahan maaf, tampaknya gak bijak juga. Gw tau betul rasanya, seperti: jam 12 malam dalam tubuh saya, seperti kata Malna. Seorang kawan baik gw membuktikan, saat dia memberi maaf, dia mendapatkan kelegaan. Sama seperti yang dirasakan orang yang menerima maaf itu.

Semoga, sahabat gw segera memberi maaf untuk sahabatnya. Dan kelak dia tak boleh menampik kata terima kasih, seperti yang juga gw ucapkan, karena dunia perkawanan sangat bersinar sebagai harta yang berharga!

One Response to “maaf,,, (bagian2)”

  1. anginsubuh Says:

    CARA MEMBENDUNG
    sapardi

    Katanya ia Si Lengang, Si Hampa. Ia muncul begitu saja, suatu ketika, dari senar biola yang begitu kenang alunnya.
    Katanya ia Si Kosong, Si Sia-sia. Ia menjelma begitu saja, suatu senja, dari lipat usia yang terjulur lampai di beranda.
    Katanya ia Si Sesak, Si Gelembung yang Merengkah Dada,
    yang setiap dirinya menghela napas membuat sesuatu dari
    matanya bagai bah yang mendorong-dorong mendesak
    desak tak bernyana. Bagaimana
    cara membendungnya?

    Katamu, Menangislah, lirih saja.
    (Gus tf,2003)

    KIRIM SAJAK, KIRIM KAPAK
    sutardji

    atau kirim saja sajak, untuk tahu mana yang manusia
    mana yang katak. Atau kirim saja kapak, untuk melihat
    siapa yang keledai siapa yang badak. Bertahun berzaman

    zaman, tak henti tak bosan kaurintihkan: ngilu kebekuan.
    (Gus tf, 2003)

    TAK TUMBUH KE LUAR TUBUH
    pinurbo

    Selalu, tiap pagi di akhir minggu, kau datang. Setelah
    minum, leyeh-leyeh, aku akan bilang, “Apa yang belum kau
    cukur dari tubuhku?” Jenuh sudah, penat sudah, marah sudah.
    Tapi selalu, setelah seminggu, ada saja yang tumbuh seperti
    baru: cepat menyemak acap tak tampak–oleh mataku.
    Oleh matamu?
    Tentu saja, karena ia tak tumbuh ke luar tubuh.

    Selalu, tiap pagi di akhir minggu, kau datang. Setelah
    minum, leyeh-leyeh, aku akan bilang, “Apa yang belum kau
    cukur dari tubuhku?” Iri sudah, dengki sudah, dendam sudah.
    Tapi selalu, setelah seminggu, ada saja yang tumbuh seperti
    baru: cepat menyemak acap tak tampak–oleh mataku.
    Oleh matamu?
    Tentu saja, karena ia tak tumbuh ke luar tubuh.
    Melainkan masuk, tumbuh ke dalam,
    menjalar-jalar serupa akar.
    (Gus tf, 2004)

    ——————————

    Dear Arnellis (Maaf):

    Semoga sajak-sajaknya Gus tf cukup membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dan gelisah-gelisah lo.
    Berbagai versi boleh kita suguhkan, sampai-sampai malah terdengar rancu.
    Kalau ada orang mengartikan “maaf” (mengutip Arne: dengan segala kata atau imbuhan yang dapat menyertainya–dan, meminta atau memberi) dengan rasa paling getir, sementara ada juga orang yang yang mengartikan “maaf” dengan rasa yang paling permen, apakah lantas kita jadi mempermasalahkan keabsahan metodenya?
    Seperti, apakah rasa cinta dan sayang hanya boleh ditelan dan dirasakan pada sisi gurihnya saja, sementara sisi tragisnya kita nafikan dan enggan menjilatnya?
    Manusia, gw rasa, tidak akan pernah sempurna menjadi hedonis sejati, yang selalu dengan cepat dan praktis mencari bahagia. Betapa kita membutuhkan sesuatu yang haru dan semi-tragis, agar kita mau berpikir dan merenungkan prosesnya.
    Biarkanlah mesinnya bekerja. Dan letupan-letupan kecil yang berirama, ya karena memang begitu tahapannya.
    Dan benar, jangan men”judge” terlalu keras untuk keikhlasan hati seseorang. Kita sama tahu, untuk mencapai fase ikhlas seberapa panjang tahapannya?

    Begitu juga kata “maaf”, apakah ia harus ditunjukkan dan selesai hanya setelah dengan santai kita tersenyum? Jangan-jangan, berbinarnya gunung yang menjulang, adalah hanya karena kita tidak menyebutnya sebagai tumpukan pasir.
    Toh kita menampakkan itu hanya agar air mata tak lagi membanjir. Bahwa kita bukan tidak sedang pedih, mungkin karena kita begitu ingin secara utuh dan bulat menikmatinya.
    Tetapi bukan lantas kita sedemikian maklum, sebagaimana Albert Camus atau bahkan Nietszche “mengagungkan” ketragisan –sampai merasa nihil dan malah terkesan jadi tidak berbuat apa-apa.
    Dear Arnellis, kita sedang berproses untuk itu. Dan nihil yang Arne katakan, bukan berarti nihil merasakan keinginan untuk mencari makna jernihnya, membawanya ke suatu tempat tertenang, menimbang-nimbang dengan perasaan terdalam, dan mengucapkannya, walau (akhirnya?) terdengar untuk sendiri saja.

    Kita belum lagi bisa mengerti kenapa si Narcissus bisa sampai begitu, kenapa Adam dan Hawa begitu peliknya, kenapa kita berlibur di hari Minggu, kenapa sih kita harus menyaksikan itu?

    Buatlah 100 pernyataan dosa tertulis, tapi jangan lupakan jawabannya harus berbuat apa, maka Arnellis akan keluar dari kenihilan dan mulai membuat diagramnya.

    Beritahulah kawan gw untuk segera datang ke gw. Gw rindu, dengan segala ke-badak-annya yang mudah mencerna. Sebagaimana kebudayaan di ‘rumah kita’ setelah kita langgar etikanya.

    Kelak gw tidak akan menampik kata terima kasih seorang Arnellis. Tapi terima kasih harus punya manifestasi. Bagaimana kalau secangkir teh kental, atau es krim rasa vanilla? :)
    Ya, mungkin ‘asupan gizi’ jenis ini akan memabukkan, maka jangan over dosis.
    Dear Arnellis, teruslah menulis.

Leave a Reply