nothing

Apa sih yang udah gw kasih ke kawan-kawan sekitar gw? Rasanya kok gak ada! Orang lain percaya gw mampu, gw punya, dan gw bisa, tapi gw gak memperlihatkan kemampuan, kepunyaan, dan kebiasaan gw itu!

Kawan2 gw kecewa ketika gw jadi moderator di seminar Pram kemarin. Katanya pertanyaan2 yang gw ajukan pada pembicara gak tajam, padahal mereka tau gw bisa untuk melakukan itu. Ya, gw sadari hal itu. Kawan gw lainnya bilang, “lo kan tau banyak tentang Pram, seharusnya lo bisa kembangkan banyak hal”. Bahkan dosen gw bilang, “saya kecewa. kamu kan suka Pram, jadi seharusnya bisa lebih baik daripada kemarin itu!” Hhh, gw tau gw sama sekali belum maksimal. Tapi bolehkah gw minta permakluman karena kemarin adalah kali pertama gw jd moderator? Selain itu, kenapa mereka bisa bilang gw ’suka’ sama Pram? Semoga jangan hanya karena nama gw berasal dari karyanya, atau karena kebetulan gw tertarik melahap karya2 dia. Kalau memang benar2 suka, apa lantas gw harus mengetahui semua tentang Pram? Kawan gw bilang, “nah, makanya lo tanya kl emang banyak yang belum lo tau! Atau jangan2 karena lo udah banyak tau, lo jadi gak tanya2 lagi?” Ugh, gw salah!

Ya, semua itu adalah masukan supaya gw bisa lebih baik. Dan gw berterima kasih untuk itu. Ya, sifat jarang nanya gw emang harus dikikis dikit2, terutama untuk keperluan2 seperti itu.

Hmm, gw jd inget, dulu waktu pertama kali gw bertamu ke rumah Pram, bertemu muka dengannya, sama sekali gak ada niat untuk bertanya apapun. Kenapa? Entah! Memang gak ada pertanyaan terlintas di benak gw. Gw hanya menikmati ketuaannya, gerak-geriknya, dan celoteh kawan2 lain yang ribut bertanya. Bahkan ketika kawan2 lain rebutan untuk berfoto berdua Pram, gw gak bergerak sama sekali. Alhasil, gw gak punya kenang2an foto berdua dengan dia. Paling, berfoto ramai2 aja.

Trus, kali kedua gw bertemu Pram, di rumahnya di Utan Kayu, lagi2 gw gak memanfaatkan kesempatan untuk berbicara dengan dia. Gak tau! Mungkin orang2 akan anggap gw bodoh. Gila, lo Ne, kapan lagi??? Tapi, entah, gw cukup senang duduk di samping dia, melihat mukanya, dan kepulan asap rokoknya. Mungkin secara tak sadar, gw sengaja menempatkannya sebagai manusia biasa, yang kalau tak perlu2 amat gw tanya, ya gak usah dipaksa2.

Waktu ketemu Iwan Fals saat acara OI di rumah kawan gw juga begitu. Gw sendiri bingung, kenapa gw gak tergerak untuk bersalaman dengan dia. Gw cuma asik melihat dia dari jarak lumayan dekat, sambil bilang “udah tua, tetep ganteng aja, ya!” Yah, begitulah!

Kira2 gambarannya begitu. Gw gak mengidolakan mereka. Gw juga gak menguasai bahan2 tentang mereka. Tapi kalo orang2 merasa gw cukup banyak tau tentang mereka, yah, apa bisa dikata. Permintaan kawan2 gw mungkin sebetulnya sederhana aja, Ne, coba lo bagi pengetahuan lo tentang mereka pada orang lain!

Lalu, tiba2 gw tersadar, ya ampun, apa sih yang udah gw kasih ke mereka? Kenapa gw gak bisa memberi sesuatu ke sekitar gw dengan maksimal? Ternyata, karena gw kurang usaha gali otak gw sendiri!

Di sisi lain, gw justru nangis ketika ada seorang kawan perempuan yang dengan iseng memberi hadiah buat gw. Dua buah kalung yang cantik. Dan ini adalah kali kesekian dia memberi gw macam2 barang sebagai hadiah. Entah, gw merasa minder aja. Gw merasa gak pantes nerima itu semua. Apa sih yang udah gw kasih bat dia, sehingga dia begitu rela memberi gw bermacam2 barang yang gw suka? Gw gak merasa memberi apapun. I am nothing…

Huah, tulisan ini kacau dan membosankan sekali ya! Cuma cerita tentang kepesimisan orang yang merasa bukan apa2. Tau lah, gw merasa bukan apa2 aja sekarang…

Leave a Reply