Roca

Dua malam kemarin ini, gw beruntung bisa berkendara dengan bis kota. Menyusuri jalanan Jakarta di malam hari, rasanya seperti mendayung dengan tangan, lama sekali gak juga sampai. Tapi, kelelahan mendayung itu, terpulihkan oleh suara2 lantang para penyair jalanan yang mampir bersuara di bis kota yang gw naiki. Malam pertama, penyair yang asik bergumul dengan kata2 itu, adalah seorang bapak tua. Dia membawakan sajak Wiji Tukul. Malam kedua, penyair yang juga asik bergelinjang dengan kata2 itu, adalah seorang lelaki muda. Dia juga membawakan sajak Wiji Tukul.

Gw terpesona? Gak terlalu juga! Tapi, naluri memaksa gw untuk berkenalan dengan mereka. Tapi, malam pertama sudah terlewat begitu aja. Maka gw gak mau melewatkan malam kedua dengan begitu aja. Selesai si lelaki penyair itu berakasia—seperti katanya, diulang2 pula—gw mengajaknya minum kopi sebentar di warung manapun tempat kami turun nanti. Jadilah, larut malam itu gw berdua dengannya, nongkrong menyeruput kopi kental dan teh manis di warkop bawah jembatan penyeberangan UI.

Namanya Roca. Merasa punya kedekatan jiwa dengan Mas Wiji Tukul katanya. Gw memintanya bercerita, maka berceritalah dia. Tapi, sebelum ia bercerita, ia meminta jawaban gw, kenapa gw mau menegurnya. Gw katakan dengan sederhana, “ingin berkenalan saja, dengan kamu dan Mas Wiji.” Dia tersenyum, balas bicara, “ternyata masih ada orang yang peduli pada dia.”

Berceritalah Roca, tentang si penyair hilang itu, tentang sajak2nya yang menyerusuk jiwa, tentang pertemuan terakhir dengannya. Juga tentang kehidupannya berputar dengan roda bis kota, tentang keinginan orangtuanya yang ingin ia bekerja ‘biasa’, juga tentang harapan2nya.

Kemudian ia balas tanya, apa yang gw dapatkan di kuliah sastra. Berceritalah gw seadanya, lalu komentarnya, “jangan makan kurikulum saja!” Ahh, gw malu tiba2! Benar, gw sadari itu, bahwa yang gw jalani selama ini, mungkin hanya rutinitas memakan kurikulum aja, gak ada pemberontakan gw berkarya. Mana? Mana karya udah gw cipta? Gw bilang padanya, “aku malas, dan memang sebaiknya aku bunuh malas itu.” Tapi, dia bilang cepat2, “Jangan, jangan kamu bunuh malas itu. Hidupkan saja.” Katanya, malas pun bisa menghasilkan sesuatu, yang penting, jangan hanya lihat ke belakang saja, atau lihat ke depan saja. Dia sempat bertanya, kenapa gw gak kuliah sejarah aja, ternyata itulah maksudnya. Sering2lah lihat ke belakang, tapi jangan lupa lihat depan juga. Juga lihat kanan-kiri. Sementara itu, jangan tutup telinga, jangan tutup mata, katanya.

Sebuah tonjokan maha dahsyat! Selama ini gw dibutakan kurikulum, seperti yang disinggung Wiji Tukul dalam karyanya! Hanya makan akademis! Lupa, gak melihat bahwa ada sesuatu yang sama hebat di luar sana. Gw tiba2 teringat pertentangan yang selalu terjadi, antara kaum akademisi dan kaum otodidak. Di permukaan, dua kubu itu saling tersenyum manis, tapi tetap aja, ada sekam yang mungkin sengaja dipupuk supaya tetap membara. Oh, tidak, gw gak mau melebih2kan! Tapi, yang gw rasakan selama ini, begitulah yang terjadi.

Malam yang hebat. Gw harus lebih banyak berkenalan dengan Roca dan Roca2 lainnya. Orang2 jalanan yang tampak nyinyir di mata, tapi justru lebih hebat daripada diri kita. Penutup malam itu, gw minta padanya, pacu gw untuk gak hanya makan kuliahan. Dia mengangguk, dan tangannya mengibas sesuatu yang gak tampak di telinga dan matanya. Mengisyaratkan gw agar selalu membuka telinga dan mata.

Leave a Reply