Archive for October, 2006

Mbah Mati Seperti Kucing

Friday, October 20th, 2006

Aku gak peduli ketika kucing peliharaan seorang kawan tiba-tiba menghilang dari rumahnya beberapa hari. Katanya, seminggu sebelumnya, kucing itu sudah gak mau menyentuh makanan yang diberikan kawanku itu. Makanan yang ada di depan hidungnya hanya diendus, lalu dia lebih memilih untuk tidur, menjilati bulu-bulunya, atau terpekur memperhatikan tuannya. Aku juga gak peduli ketika beberapa hari setelah itu, kucing itu ditemukan mati di dekat pasar. Kucing itu sengaja pergi dari rumah tuannya, menyepi, puasa pati geni, dan siap untuk mati.

Tapi, aku sangat peduli ketika kisah kucing itu serupa dengan kisah kematian Mbahku. Kemarin dia pergi. Bukan kebetulan jika Mbah-putriku itu menyayangi kucing. Tentu ia menyayangi dengan caranya, sesuai dengan gaya hidup dusun yang dijalaninya selama ini. Bukan kebetulan pula jika aku, cucunya, juga menyukai kucing, dan bonus, bermata kucing.

Aku benar2 gak tau, Mbah dengan sengaja atau tidak, memilih mati seperti kucing. Ya, seperti kisah matinya kucing peliharaan kawanku itu. Seorang saudara bilang, sudah beberapa hari ini Mbah gak mau makan. Makanan yang disodorkan ke depan mulutnya sudah gak digubris sama sekali. Bicara juga enggan. Ditanyakan apa keinginannya, dia gak menyahut. Dia hanya tidur atau tidur2an. Mungkin menerawang masa silam, atau entah apa, diiringi lelehan air mata di sudut matanya.

Airmataku ikut meleleh jika Mbah benar2 ingin mati seperti kucing. Betapa menyedihkannya sebuah kematian. Kehidupan yang sudah dilewati sebelumnya jadi seperti pecutan2 kisah yang hanya menyayat hati. Kenangan2 hanya bisa ditangisi, diingat2 sambil diratapi. Dan pada saat waktu kematian itu kian dekat, yang entah kapan datangnya, Mbah sudah tidak bisa berbuat apa2. Dia hanya berbaring dan diam. Apa mungkin ia masih bisa mengingat Tuhan di sela2 mengingat kenangan? Entah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Sepi. Pasti sepi sekali rasanya saat akan mati. Dan akan semakin sepi saat diri menyadari bahwa kita akan pergi sendiri. Lagi, sekali lagi, aku dipaksa untuk menyadari bahwa dunia memang bukan pasar malam. Orang gak datang berduyun-duyun dan pulang dengan berduyun-duyun pula. Orang datang ke dunia sendiri2 dan pergi dari dunia juga sendiri2.

Aku gak tau akan memilih untuk mati seperti kucing atau tidak. Menyepi sendiri tampaknya baik. Sedikit seperti kucing, yang memilih mati dengan gak merepotkan makhluk lain. Tapi semoga nanti aku masih bisa ditemani Tuhan, biar tidak terlalu sepi.

Cerita Buka Puasa Bersama: Yang Baru Pasti Seru!

Sunday, October 1st, 2006

Gw paling seneng berkenalan sama orang baru. Janjian di suatu tempat tanpa tahu nanti akan bertemu dengan siapa, bukan masalah buat gw. Seperti kemarin sore (1 Okt), gw janjian bertemu kawan-kawan milis Iwanfals untuk berbuka puasa bersama di Blok M. Yang mengundang Joe, yang gw hubungi Saloute, dan yang jadi CP Resta. Semuanya nama2 yang hanya gw tahu di milis aja, tanpa tahu seperti apa rupanya. Tapi, justru di sinilah serunya.

Jam 3 gw udah nyampe Blok M. Sengaja, sekalian jalan-jalan menikmati kerumunan orang2 yang sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Gw ternyata ikutan! (hehe…) Tapi jam udah teriak, woi, lewat setengah lima! Ya sudah, gw pergilah ke belakang loket busway, seperti yang dibilang Resta, bahwa kawan2 lainnya akan berkumpul di sana. Sampai di sana, jelas gak ada orang yang bawa papan nama seperti di bandara, juga gak ada pula yang berbaju Iwan Fals misalnya. Benar2 gak terdeteksi ada kumpul2 kawan2 milis.

Tapi, teknologi udah canggih. Gw SMS-lah Resta. Dibalas, katanya sebentar lagi akan dateng. Sambil menunggu bengong2 bego, isenglah berimajinasi seperti apa rupanya. Katanya dia cowok. Hm, mungkin berambut gondrong, atau gimbal bak anak rasta (namanya mirip, sih!)? Mungkin lebih tua sedikit dari gw, mungkin gayanya seperti anak muda kebanyakan. Lalu, HP gw berbunyi, ada telepon dari Resta. Dan akhirnya bertemulah gw dengan Resta, yang jauh dari imaji gw semula.

Resta tampak matang (untuk menggantikan istilah ‘tua’, hehe…), boro2 gondrong tapi justru botak, berkacamata tebal (kacanya, bukan gagangnya), berkaos dan berjins seperti biasa, dan serunya…menggandeng gadis kecil lucu. Sampai detik terakhir acara selesai, gw masih juga gak tahu siapa nama si kecil itu, yang ternyata adalah putri tersayang Resta. Jadi, kami bertiga. Resta sibuk menelepon kawan2 lainnya, sementara gw bersusah payah menggoda si kecil berkuncir kuda.

Udah lewat jam 5 tapi belum ada yang nongol juga. Beberapa nama yang diperkirakan akan dateng, iseng gw imajinasikan juga seperti apa wujudnya. Di Friendster, Dwi terlihat seperti gadis kecil periang dan ramah. Kira2 seperti itulah dugaan gw. Saloute usianya pasti jauh di atas gw, tampak serius dan sulit untuk bercanda. Joe, dari tulisan2nya, sih, keliatannya tipe orang penuh humor. Yang lain, gw belum tahu. Akhirnya satu persatu kawan2 datang. Ada Joko ‘Joe’ Sorjan, Dwi, Nday, Saloute, Eman, Firman, dan Lukman. Dan ternyata gak bertambah lagi, hanya itu saja! Tapi serunya, imaji gw benar 50% aja! Dwi ternyata terlihat dewasa sekali, tinggi, dan berpakaian rapi (habis pulang kerja juga). Gw tebak usianya 24. Oh, ternyata dia terbahak2, karena ternyata dia baru…20 tahun! Loh, justru lebih muda dari gw toh? Tapi bahwa dia periang dan ramah, tepat. Tepat pula tentang Joe, bahwa dia lucu, cukup pandai mencairkan suasana. Kalau Saloute lain lagi, dia gak sebesar yang gw duga (di foto beda, Mas! hehe…), mulanya terlihat pendiam, tapi ternyata ramai dan senang bercanda juga. Lucunya, dia menduga bahwa gw laki-laki, bahkan pernah dulu dia panggil gw dengan sapaan “mas”. Hahaha…

Adzan magrib, kami masih sibuk mencari tempat yang bisa diduduki bersepuluh. Ya, kami pergi ke basement, ke Warung Umat, yang ternyata benar2 disesaki berjuta umat! Ampun deh, kami harus bersabar dulu sebelum bisa duduk tenang, dan memesan makanan. Kami ngobrol apapun, tentang silaturahim ini, tentang virus yang pakai ID anggota milis, tentang rencana datang ke Reboan terakhir di Leuwinanggung, tentang rencana tour ke Taman Buah Mekarsari (ngerujak, gitu?), tentang rencana rahasia buat perkembangan milis ini ke depannya, dan cerita2 lainnya. Seru lah!

Bonusnya, Om Resta menambah kebahagiaan kami. Dia bayar semua pesanan makanan dan minuman kami! Dia tampaknya paham bgt bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk beramal (betul? ;p). Kami pun tak lupa berterima kasih dan berdoa, semoga putri kecilnya masih bisa punya baju lebaran baru! Hehe…

Setengah delapan malam. Kami berpisah di depan game center. Berfoto-foto gak ketinggalan pasti. Walaupun masih banyak kekurangan dari acara ini (kurang publikasi, publikasi mepet, tanpa order tempat, dll.), acara ini tetap banyak bermanfaat untuk menjalin silaturahmi antaranggota milis Iwan Fals. Sensasi hebat dari komunitas di dunia maya adalah kopi darat itu sendiri, bukan? Dan yang tak kalah hebat dan seru, ya bertemu orang2 baru itu!

:: damai kami sepanjang hari!