Mbah Mati Seperti Kucing

Aku gak peduli ketika kucing peliharaan seorang kawan tiba-tiba menghilang dari rumahnya beberapa hari. Katanya, seminggu sebelumnya, kucing itu sudah gak mau menyentuh makanan yang diberikan kawanku itu. Makanan yang ada di depan hidungnya hanya diendus, lalu dia lebih memilih untuk tidur, menjilati bulu-bulunya, atau terpekur memperhatikan tuannya. Aku juga gak peduli ketika beberapa hari setelah itu, kucing itu ditemukan mati di dekat pasar. Kucing itu sengaja pergi dari rumah tuannya, menyepi, puasa pati geni, dan siap untuk mati.

Tapi, aku sangat peduli ketika kisah kucing itu serupa dengan kisah kematian Mbahku. Kemarin dia pergi. Bukan kebetulan jika Mbah-putriku itu menyayangi kucing. Tentu ia menyayangi dengan caranya, sesuai dengan gaya hidup dusun yang dijalaninya selama ini. Bukan kebetulan pula jika aku, cucunya, juga menyukai kucing, dan bonus, bermata kucing.

Aku benar2 gak tau, Mbah dengan sengaja atau tidak, memilih mati seperti kucing. Ya, seperti kisah matinya kucing peliharaan kawanku itu. Seorang saudara bilang, sudah beberapa hari ini Mbah gak mau makan. Makanan yang disodorkan ke depan mulutnya sudah gak digubris sama sekali. Bicara juga enggan. Ditanyakan apa keinginannya, dia gak menyahut. Dia hanya tidur atau tidur2an. Mungkin menerawang masa silam, atau entah apa, diiringi lelehan air mata di sudut matanya.

Airmataku ikut meleleh jika Mbah benar2 ingin mati seperti kucing. Betapa menyedihkannya sebuah kematian. Kehidupan yang sudah dilewati sebelumnya jadi seperti pecutan2 kisah yang hanya menyayat hati. Kenangan2 hanya bisa ditangisi, diingat2 sambil diratapi. Dan pada saat waktu kematian itu kian dekat, yang entah kapan datangnya, Mbah sudah tidak bisa berbuat apa2. Dia hanya berbaring dan diam. Apa mungkin ia masih bisa mengingat Tuhan di sela2 mengingat kenangan? Entah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Sepi. Pasti sepi sekali rasanya saat akan mati. Dan akan semakin sepi saat diri menyadari bahwa kita akan pergi sendiri. Lagi, sekali lagi, aku dipaksa untuk menyadari bahwa dunia memang bukan pasar malam. Orang gak datang berduyun-duyun dan pulang dengan berduyun-duyun pula. Orang datang ke dunia sendiri2 dan pergi dari dunia juga sendiri2.

Aku gak tau akan memilih untuk mati seperti kucing atau tidak. Menyepi sendiri tampaknya baik. Sedikit seperti kucing, yang memilih mati dengan gak merepotkan makhluk lain. Tapi semoga nanti aku masih bisa ditemani Tuhan, biar tidak terlalu sepi.

Leave a Reply