Archive for February, 2007

Wajah Tuhan di Pantat Ronggeng

Monday, February 12th, 2007

Perjumpaan gue dengan Ahmad Tohari akhir Januari lalu,
menjadi vitamin bagus buat otak liar gue. Juga otak liar kalian, kawan-kawan.
Entah ya, buat kawan-kawan gue yang sudah hebat, sudah mampu dengan mudah
mengendalikan keliaran khayal fantasi untuk bercinta, mungkin kata-kata Tohari
ini jadi biasa-biasa saja. Bahkan mungkin jadi konfrontasi buat otak mereka.
Tapi buat gue, kata-kata yang Tohari sampaikan, cukup mampu membendung khayal
itu tadi dengan anggukan paham dan diiringi kata, iya ya…

 

Gue buat perbandingan kisah gue dengan cerita Tohari
berikut ini. Kalian sebaiknya juga lakukan perbandingan serupa. Semoga nanti muncul
kesadaran bahwa kita sering terjebak bercinta dengan bebas, karena lebih sering
mendidihkan sensasi dan membekukan otak.

 

Suatu kali, Tohari menonton ronggeng. Sang ronggeng
menari dengan sensual, dengan tubuh indahnya yang kebanyakan membuat penonton
naik birahi. Tohari nonton itu bersama seorang pejabat pemerintah dan seorang
kiai. Dua orang di sebelahnya itu menundukkan muka, tak mau melihat hal yang
menurut mereka adalah aib. Namun, Tohari asyik-asyik saja melihat itu semua.
Kenapa?

 

AT: Mata harus dijaga dari
maksiat, itu dalilnya jelas. Dan tak mengada-ada. Masalahnya ada dalil yang
lain. Dalil ini sebetulnya dari Allah untuk orang-orang khusus dan yang lain
juga. Sama-sama dari Alquran. Dalil yang kedua bunyinya begini: apapun yang kau
lihat, di situlah wajah Tuhan. Ini, bayangkan itu, ya. Bayangkan ronggeng tadi
telanjang bulat sampai pantatnya kelihatan. Nah, mari kita matikan sensasi,
kita hidupkan akal. Masalahnya selama ini yang hidup cuma sensasi, akal
berhenti. Nah, kalau akal yang bicara, maka begini. Pantat yang menol-menol
itu, sebetulnya sekian trilyun atom air, sekian trilyun atom fosfor, sekian
trilyun atom protein, dan sebagainya. Itu bukan apa-apa. Ya, nggak? Betul, kan?
Menurut akal, kan, begitu? Sekarang kamu lihat tubuh laki-laki yang kayak…
seksi begitu. Jangan lupa itu juga kayak itu. Sekian trilyun atom air, sekian
trilyun fosfor, itu! Jadi, kita tidak boleh terlalu kagum. Kagumnya justru pada
mengapa sekian trilyun atom itu bisa berbentuk seperti itu, kemudian hidup,
bahkan kemudian punya kesadaran. Itulah wajah Tuhan. Itu loh…Jadi, di pantat
ronggeng pun ada wajah Tuhan. Dan ternyata Pak ini nggak tahu. Gitu loh…
Jadi, saya sih, asyik aja, haha…Nah, ini bedanya. Dua-duanya memang punya
dalil, tapi dalil yang kedua hanya untuk orang yang khusus.

 

A: Tapi, kan, masyarakat kita masih sangat awam
menggunakan dalil yang kedua. Upaya Bapak gimana?

AT: Ya, saya mengambil risiko itu.
Kalau tidak mau mengambil risiko, berarti saya tidak pernah berani mengatakan
akal. Sensasi terus. Padahal sensasi isinya bohong. Sensasi itu, kan, bukan
perasaan sebenarnya. Dilambung-lanbungkan sendiri. Sebetulnya, sih, nggak ada
apa-apanya. Misalnya, gini ya. Misalnya, cantik, siapalah…Blezsinsky itu,
kan, cantik. Siapa namanya?

 

A: Tamara.

AT: Ya. Itu, kan, sekarang. Coba 20 tahun lagi. Hahaha…
Lha iya, 30 tahun lagi, dikasih aja nggak mau itu. Tapi kalau disensasikan
sedemikian rupa, seolah-olah cantik itu abadi, gagah itu abadi, nikmat itu
abadi. Tolong sekali-kali akal bicara, jangan sensasi terus. Ya, risikonya
memang, ya, begitu. Sampai itu ada kiai yang mengatakan, “Apa kamu tidak menemukan
objek lain, sampai harus menulis ronggeng?” Kiai ini juga keblinger juga
ternyata kiai ini. Padahal dia itu sangat hapal ayat surat Albaqarah yang
berbunyi: la huma fi samaa waati wamaa
fil ardhi
; kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Apa itu dalam bahasa Arabnya ma. Nah, ronggeng ini masuk dalam
pengertian ma atau bukan?

 

A: Ma.

AT: Iya. Apa yang ada di bumi, itu semua milik Allah.
Termasuk ronggeng, bukan?

 

A: Ya.

AT: Iya, dong! Kalau itu milik Allah, kenapa nggak boleh
kita bicarakan? Kenapa nggak boleh kita kaji? Kenapa nggak boleh kita aduk-aduk
isinya? Kenapa? Harus boleh, dong! Boleh, cuma memang ada syaratnya. Syaratnya
itu, bismirabbikalladzi kholaq.
Ketika kita ngaduk-ngaduk perut ronggeng itu, pantatnya ronggengnya itu, kan,
ya, pijakan kita adalah bismirabbikalladzi
kholaq
; membaca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Nanti dampaknya lain.
Kita bukan menjadi penikmat. Bukan menjadi sensasioner, tetapi sebagai
orang-orang yang sedang mencari amal. Gitu.

 

Pada akhirnya gue percaya, Tuhan dan hitam akrab sekali.
Gue gak perlu takut Tuhan akan ninggalin gue saat gue jatuh di lubang hitam.
Gue harus pandai-pandai mencari wajah Tuhan dalam kehitaman. Ya, seperti
mencari wajah Tuhan di pantat ronggeng. Setelah tahu, gue yakin, Tuhan akan
menemani gue mencari putih lagi.

 

Percayalah kawan, hitam dan Tuhan itu bermesraan.