<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Wajah Tuhan di Pantat Ronggeng</title>
	<atom:link href="http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 19:03:52 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: arne</title>
		<link>http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-43</link>
		<dc:creator>arne</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 03:11:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-43</guid>
		<description>nah, itu dia. aku yg bodoh ini justru harus pandai2 melihat Tuhan di berbagai benda ciptaannya yang nyata terpajang di mata. baguslah jika kau bisa temukan Tuhan dalam keheningan, sambil terus mengurung diri dalam gua sepi. hebat. tapi, tak semua orang sehebat kau.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nah, itu dia. aku yg bodoh ini justru harus pandai2 melihat Tuhan di berbagai benda ciptaannya yang nyata terpajang di mata. baguslah jika kau bisa temukan Tuhan dalam keheningan, sambil terus mengurung diri dalam gua sepi. hebat. tapi, tak semua orang sehebat kau.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anginsubuh</title>
		<link>http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-42</link>
		<dc:creator>anginsubuh</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 19:38:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-42</guid>
		<description>Tanpa melihat pun sebenarnya sebuah ide sudah bisa di bayangkan, maka buat apa lagi permukaan pantat itu - yang malah mengganggu penalaran untuk ide itu. Siapa bisa memberi arti dan kalkulasi sebuah kinesik, paralinguistik, atau petunjuk "cue", siapa bisa mengharamkan sensasi kalau di depan mata stimuli begitu "memaksa" (barangkali, ya, untuk "si mati rasa"), siapa bisa memurnikan akal saat libido terlanjur naik, adakah pemikir sejati tetap menghitung setiap inci lekuk tubuh, sementara selangkangan (bahkan dari pasangannya sendiri yang sah - yang bertahun-tahun sebetulnya telah membosankan) mengapung di depan mata dengan aroma wangi? Adakah Adam menggunakan seluruh akal murninya ketika dia memohon untuk diciptakan Hawa? Toh, komunikasi secanggih apa pun tetap tak sepenuhnya bisa tepat dipahami (apalagi dalam konsep Tuhan), maka berhati-hati menggunakan kata itu perlu, dan aku percaya cara berlogika bisa keliru. Sebelum sampai kepada Tuhan; apakah 'chip' di kepala kita bisa terus bergerak teratur, sementara kita tidak mau disebut manusia mesin? Aku lebih percaya 'chip' itu hanya bisa bekerja di kepala malaikat. Aku Si Kerdil, yang tak bisa melihat dan tak bisa merasakan sensasi hembusan napas Tuhan di keramaian dan pada goyangan ronggeng dengan birama 3/4. Dan aku percaya ide itu liar dan menjalar, maka aku kadang takut karena itu. Aku lebih suka mengheningkan Tuhan daripada membicarakan dari jauh. Tabik.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tanpa melihat pun sebenarnya sebuah ide sudah bisa di bayangkan, maka buat apa lagi permukaan pantat itu - yang malah mengganggu penalaran untuk ide itu. Siapa bisa memberi arti dan kalkulasi sebuah kinesik, paralinguistik, atau petunjuk &#8220;cue&#8221;, siapa bisa mengharamkan sensasi kalau di depan mata stimuli begitu &#8220;memaksa&#8221; (barangkali, ya, untuk &#8220;si mati rasa&#8221;), siapa bisa memurnikan akal saat libido terlanjur naik, adakah pemikir sejati tetap menghitung setiap inci lekuk tubuh, sementara selangkangan (bahkan dari pasangannya sendiri yang sah - yang bertahun-tahun sebetulnya telah membosankan) mengapung di depan mata dengan aroma wangi? Adakah Adam menggunakan seluruh akal murninya ketika dia memohon untuk diciptakan Hawa? Toh, komunikasi secanggih apa pun tetap tak sepenuhnya bisa tepat dipahami (apalagi dalam konsep Tuhan), maka berhati-hati menggunakan kata itu perlu, dan aku percaya cara berlogika bisa keliru. Sebelum sampai kepada Tuhan; apakah &#8216;chip&#8217; di kepala kita bisa terus bergerak teratur, sementara kita tidak mau disebut manusia mesin? Aku lebih percaya &#8216;chip&#8217; itu hanya bisa bekerja di kepala malaikat. Aku Si Kerdil, yang tak bisa melihat dan tak bisa merasakan sensasi hembusan napas Tuhan di keramaian dan pada goyangan ronggeng dengan birama 3/4. Dan aku percaya ide itu liar dan menjalar, maka aku kadang takut karena itu. Aku lebih suka mengheningkan Tuhan daripada membicarakan dari jauh. Tabik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arne</title>
		<link>http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-41</link>
		<dc:creator>arne</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Feb 2007 04:54:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-41</guid>
		<description>mengenaskan, melihat sebuah ide  hanya dari permukaan. mari kita bicara jauh, biar kau lihat bukan ada niat menjadi nabi di sini. ah ya, sedikit pesan, sebelum bicara, buang jauh-jauh dulu sensasi dirimu.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mengenaskan, melihat sebuah ide  hanya dari permukaan. mari kita bicara jauh, biar kau lihat bukan ada niat menjadi nabi di sini. ah ya, sedikit pesan, sebelum bicara, buang jauh-jauh dulu sensasi dirimu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anginsubuh</title>
		<link>http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-40</link>
		<dc:creator>anginsubuh</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 13:50:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://annarnellis.blog.friendster.com/2007/02/wajah-tuhan-di-pantat-ronggeng/#comment-40</guid>
		<description>...sayang ide itu menjalar. Dan kita akan terus bersofistik, karena merasa itulah yang paling asyik. Lalu kita merasa sudah yakin benar menjadi orang-orang pilihan. Parahnya, kita jadi suka sering menebak-nebak; itulah jalan keluar. Kebetulan, karena tebakannya dirasa benar, lalu tenggorokan sudah "pede" berkoar-koar. Padahal siapa yang membenarkan? Lalu Tuhan (yang katanya - siapa? - ada di pantat) bisa diselipkan di ketiak, yang kalau kita bersin; berarti Tuhan sedang tersenyum.
Ada di bulu-bulu hidung, yang kalau kita menghirup udara segar; berarti Tuhan sedang puber kedua. Eh, nggak ding; "hahaha, ternyata wajah Tuhan sudah kududuki dari tadi." Ah, ternyata Tuhan bisa digagas dan bisa menjadi gagasan. Untungnya lagi, Tuhan bisa diobral, atau didiskon seperti tiket konser...


Rasanya, dimensi dunia ini saja terlalu luas untuk bisa dimasuki semuanya, eh kita sudah merasa di jalan yang benar sambil bersiul lagu yang tadi pagi diciptakan di kamar mandi - untuk mendatangi alamatnya. Lalu dengan sok; menyeret Tuhan dari singgasananya, atau kalau memang bisa dibujuk - Tuhan dijanjikan akan ditraktir jus - asal mau menghadiri "launching" sebuah buku baru...


Oh, siapa lagi yang ingin menjadi nabi hari ini? Siapa lagi yang merasa telah habis "mengunyah" BAB TERAKHIR kebenaran? Siapa lagi yang ingin menunjukkan KTP untuk membuktikan bahwa dialah turunan asli dari Musa, Khidir, Nuh, Ibrahim, Yunus atau kerabat Muhammad...


Bahkan para DJ di klub atau di disko pun telah gagal menenangkan penjoged ketika mereka sudah pulang ke rumah - padahal tabloid, majalah "teeners", atau pembuka botol Jidat Miring sudah sah menobatkan dia sebagai nabi...


Oh, jika nanti pun ada nabi lagi; siapa pun, kirimilah kabar gembira untukku. Paling tidak, Surat Malam Minggu ayat 7...


HEDONESIA No. 1 ???
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;sayang ide itu menjalar. Dan kita akan terus bersofistik, karena merasa itulah yang paling asyik. Lalu kita merasa sudah yakin benar menjadi orang-orang pilihan. Parahnya, kita jadi suka sering menebak-nebak; itulah jalan keluar. Kebetulan, karena tebakannya dirasa benar, lalu tenggorokan sudah &#8220;pede&#8221; berkoar-koar. Padahal siapa yang membenarkan? Lalu Tuhan (yang katanya - siapa? - ada di pantat) bisa diselipkan di ketiak, yang kalau kita bersin; berarti Tuhan sedang tersenyum.<br />
Ada di bulu-bulu hidung, yang kalau kita menghirup udara segar; berarti Tuhan sedang puber kedua. Eh, nggak ding; &#8220;hahaha, ternyata wajah Tuhan sudah kududuki dari tadi.&#8221; Ah, ternyata Tuhan bisa digagas dan bisa menjadi gagasan. Untungnya lagi, Tuhan bisa diobral, atau didiskon seperti tiket konser&#8230;</p>
<p>Rasanya, dimensi dunia ini saja terlalu luas untuk bisa dimasuki semuanya, eh kita sudah merasa di jalan yang benar sambil bersiul lagu yang tadi pagi diciptakan di kamar mandi - untuk mendatangi alamatnya. Lalu dengan sok; menyeret Tuhan dari singgasananya, atau kalau memang bisa dibujuk - Tuhan dijanjikan akan ditraktir jus - asal mau menghadiri &#8220;launching&#8221; sebuah buku baru&#8230;</p>
<p>Oh, siapa lagi yang ingin menjadi nabi hari ini? Siapa lagi yang merasa telah habis &#8220;mengunyah&#8221; BAB TERAKHIR kebenaran? Siapa lagi yang ingin menunjukkan KTP untuk membuktikan bahwa dialah turunan asli dari Musa, Khidir, Nuh, Ibrahim, Yunus atau kerabat Muhammad&#8230;</p>
<p>Bahkan para DJ di klub atau di disko pun telah gagal menenangkan penjoged ketika mereka sudah pulang ke rumah - padahal tabloid, majalah &#8220;teeners&#8221;, atau pembuka botol Jidat Miring sudah sah menobatkan dia sebagai nabi&#8230;</p>
<p>Oh, jika nanti pun ada nabi lagi; siapa pun, kirimilah kabar gembira untukku. Paling tidak, Surat Malam Minggu ayat 7&#8230;</p>
<p>HEDONESIA No. 1 ???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
