mei
Monday, April 30th, 2007Pagi
ini bokap gue bilang, “Kok gak ada yang kasih Bapak ucapan
selamat?” Sambil mikir nyokap balik tanya, “Emang ada apa?”
Bokap bilang, “Sekarang kan hari buruh.” Nyokap seketika itu
tersenyum-senyum sendiri. Entah, menyadari apa, mungkin merasa lucu
karena ia merasa seharusnya hal itu bukan sesuatu yang patut
dirayakan. Tapi kemudian nyokap bilang, seharusnya majikan-majikan
bokap itu yang memberi selamat,memberi hadiah, memberi tambahan
gaji,memberi tunjangan entah apalagi,demi buruhnya ini. Tapi, bokap
gak bilang apa-apa. Dia diam aja, mungkin udah pasrah aja sama
nasibnya sebagai buruh.
Meskipun
begitu, sejauh yang bisa gue perhatikan, begitulah, bokap sumarah.
Tapi bukan sumarah yang pasrah lalu tak berbuat apa-apa. Dia tetap
berusaha kasih apa aja yang dia punya. Yang paling besar adalah
tenaganya untuk bekerja keras. Mengeluh seringkali terdengar, tapi
itu gak menghalangi dia jadi malas dan gak mau bekerja lagi. Dia
bilang, “Kalau nurutin bosan, Bapak bosan banget, kerja 20 tahun
gini-gini aja, tapi kalau cuma ini yang bisa dilakukan, ya lakukan
aja dengan sebaik-baiknya.”
Mendengar
itu, gue jadi malu. Dua tahun terakhir ini gue juga bosan sama hidup
gue. Udah berjuta kata-kata makian keluar hanya untuk bilang “Life
sucks!” Trus lo mau apa, Ne? Cuma mau mengumpat dan menjadi lemah
karena itu? Ahh…
Dua
tahun terakhir gue sering merasa jadi makhluk paling merana sedunia.
Padahal kalau otak gue mau berputar sedikit aja, gue pasti merasa
sangat beruntung di dunia. Otak gue nyatanya lebih memilih untuk
berhenti, memanjakan perasaan, hidup di dunia gelap, berhitam-hitam,
meratapi nasib, mengutuk karunia. Ahh! Gue pernah bilang gue gak mau
jadi Annelies yang hanya bisa meratapi nasibnya tak bisa bersama
dengan Minke. Gue bisa kok jadi Annelies yang tangguh mengurus
kuda-kudanya. Tapi kemarin gue memilih untuk jadi Annelies yang gak
mau makan, sedih habis-habisan karena Minke nya pergi. Argh, lalu
buat apa gue bernama arnellis dengan R yang tegar itu?
Padahal
cahaya sering singgah juga ke gua gelap gue,menegur, mengajak keluar,
menunjukkan bahwa di luar sana ada hidup yang penuh sinar. Tapi,
nyatanya dua tahun terakhir ini gue memilih untuk bertahan aja di gua
itu. Gue bodoh? Ya! Kemarin sempat juga gue berkenalan dengan tali
tambang, berniat menyematkannya di leher. Tapi, gue takut. Gue ingat
sober ‘aku bosan hidup ini tapi belum siap mati’. Takut juga jadi
hantu gentayangan yang gak diterima Tuhan. Ahh! Lagipula gue jadi
ingat juga, sudah setahun ini Pram mati, tapi masih aja dia dikenang.
Kenapa? Karena dia sudah berkarya. Lalu, gue? Tak kan lah gue
dikenang jika karya gue pun belum datang.
Gue
akan jadi minke alias monyet beneran kalau gue masih juga bertahan di
kehitaman. Ini gak ada kaitannya dengan ‘mereka bilang saya
monyet’. Ini iseng-iseng gue aja yang menghubungkan peristiwa
kemarin dengan hidup yang lagi gue jalani. Kemarin, Putu Wijaya
menunjuk muka gue sambil bilang “monyet!” Kebetulan aja waktu dia
cerita tentang memek, dia ngiter2, kemudian ketemu gue dan menunjuk
gue. Yah, selintas aja. Tentu apa yang baru dia lakukan gak akan
diingatnya lagi. Tapi, gue bisa jadi monyet beneran, yang cuma
bermain-main dengan keluguannya, mencari kutu di rambut pasangannya,
memijat punggung pasangannya, hingga menjilati daerah pribadi
pasangannya. Harusnya ya gue gak boleh jadi monyet. Bahkan monyet
dalam cerita Putu aja gak mau sembarangan ‘dibegitukan’, apalagi
gue!
Ahh!
Sekarang bulan Mei ya? Masuk 22 tahun gue hidup di sini. Apalagi yang
mau gue geluti? Ya, sekarang gue harus semakin sering ketemu Tuhan.
Lalu bertanya, apa dia benar-benar menggendong gue seperti kata kawan
gue. Dia bilang, hidup ini seperti berjalan di pantai sambil melihat
laut luas. Saat kita berjalan itu, akan tertinggal jejak-jejak di
pasir putih. Tapi ternyata jejak itu bukan jejak kaki kita sebab
ukurannya pun tak sama seperti tapak kaki kita. Ternyata, itu adalah
jejak Tuhan yang menggendong tubuh kita. Kita yang tentukan arahnya,
maka dia yang gerakkan kaki kita.
Nah,
siang ini gue mulai dapatkan lagi deg-degan dan gairah yang kemarin
sempat hilang: bab 2 skripsi gue gimana,nih???