huam,,,

November 20th, 2006 by annarnellis

kemarin, kawanku dengan dandanan super manisnya, pergi ke JGTC,,,

kemarin, kakakku dengan dandanan hitam sangarnya, pergi ke Hitam-hitam On Stage,,,

kemarin, aku dengan dandanan seadanya, hanya di rumah saja, mengerjakan tugas2 yang menggila,,,

sekarang, aku masih sama,,,huammm,,,

tujuh

November 6th, 2006 by annarnellis

Dua kali tujuh hari setelah lebaran. Waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan banyak pengalaman. Yang bikin tangis berhamburan. Juga bikin tawa berluberan. Yang bikin album Tujuh-Slank berputar terus di playlist winamp.

Hari kedua lebaran, tangis gw terkuras habis. Dengar azan yang dilantunkan orang yang gw sayang di liang lahat ibunya, jelas membuat otak berhenti berputar dan hati saja yang berbicara. Badan rasanya lantak di tengah hari bolong. Baju memang hitam, tapi putih saja yang terlihat di depan mata. Lagu “Bim2 jangan menangis” mengiang2 seharian!

Beberapa hari berikutnya, tawa gw membahana. Bertemu kawan2 lama, mengikat lagi silaturahmi yang dulu kencang sangat, jadi hiburan yang sangat menyenangkan di hari lepas lebaran. Jalan2, nonton, ngobrol, ah, indahnya masa remaja! Kembali berhitam2, bermain api di arena berbahaya, penuh tantangan gila! Memutar ulang keras2 lagu “maen api”, “lagi gampang”, “ngedrop”, dan “poppies lane memory”.

Dua hari lalu, gw terharu dan tergugu. Upacara sakral persatuan dua manusia lewat perkawinan hadir di depan mata (ceritanya, kmrn gw jd MC akad nikah!) Sumpah, ritual itu bikin dada sesak, apalagi saat si pengantin wanita minta izin ke ayahnya untuk dinikahkan. Benar2 menampar keras hati gw! Gw teringat lagu “april”. Lalu, gw jadi sibuk berpikir, kapan gw akan mengaprilkan diri sendiri?

Huah, tujuh, gw membiru, seluas biru langit, sedalam biru lautan!!!

Mbah Mati Seperti Kucing

October 20th, 2006 by annarnellis

Aku gak peduli ketika kucing peliharaan seorang kawan tiba-tiba menghilang dari rumahnya beberapa hari. Katanya, seminggu sebelumnya, kucing itu sudah gak mau menyentuh makanan yang diberikan kawanku itu. Makanan yang ada di depan hidungnya hanya diendus, lalu dia lebih memilih untuk tidur, menjilati bulu-bulunya, atau terpekur memperhatikan tuannya. Aku juga gak peduli ketika beberapa hari setelah itu, kucing itu ditemukan mati di dekat pasar. Kucing itu sengaja pergi dari rumah tuannya, menyepi, puasa pati geni, dan siap untuk mati.

Tapi, aku sangat peduli ketika kisah kucing itu serupa dengan kisah kematian Mbahku. Kemarin dia pergi. Bukan kebetulan jika Mbah-putriku itu menyayangi kucing. Tentu ia menyayangi dengan caranya, sesuai dengan gaya hidup dusun yang dijalaninya selama ini. Bukan kebetulan pula jika aku, cucunya, juga menyukai kucing, dan bonus, bermata kucing.

Aku benar2 gak tau, Mbah dengan sengaja atau tidak, memilih mati seperti kucing. Ya, seperti kisah matinya kucing peliharaan kawanku itu. Seorang saudara bilang, sudah beberapa hari ini Mbah gak mau makan. Makanan yang disodorkan ke depan mulutnya sudah gak digubris sama sekali. Bicara juga enggan. Ditanyakan apa keinginannya, dia gak menyahut. Dia hanya tidur atau tidur2an. Mungkin menerawang masa silam, atau entah apa, diiringi lelehan air mata di sudut matanya.

Airmataku ikut meleleh jika Mbah benar2 ingin mati seperti kucing. Betapa menyedihkannya sebuah kematian. Kehidupan yang sudah dilewati sebelumnya jadi seperti pecutan2 kisah yang hanya menyayat hati. Kenangan2 hanya bisa ditangisi, diingat2 sambil diratapi. Dan pada saat waktu kematian itu kian dekat, yang entah kapan datangnya, Mbah sudah tidak bisa berbuat apa2. Dia hanya berbaring dan diam. Apa mungkin ia masih bisa mengingat Tuhan di sela2 mengingat kenangan? Entah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Sepi. Pasti sepi sekali rasanya saat akan mati. Dan akan semakin sepi saat diri menyadari bahwa kita akan pergi sendiri. Lagi, sekali lagi, aku dipaksa untuk menyadari bahwa dunia memang bukan pasar malam. Orang gak datang berduyun-duyun dan pulang dengan berduyun-duyun pula. Orang datang ke dunia sendiri2 dan pergi dari dunia juga sendiri2.

Aku gak tau akan memilih untuk mati seperti kucing atau tidak. Menyepi sendiri tampaknya baik. Sedikit seperti kucing, yang memilih mati dengan gak merepotkan makhluk lain. Tapi semoga nanti aku masih bisa ditemani Tuhan, biar tidak terlalu sepi.

Cerita Buka Puasa Bersama: Yang Baru Pasti Seru!

October 1st, 2006 by annarnellis

Gw paling seneng berkenalan sama orang baru. Janjian di suatu tempat tanpa tahu nanti akan bertemu dengan siapa, bukan masalah buat gw. Seperti kemarin sore (1 Okt), gw janjian bertemu kawan-kawan milis Iwanfals untuk berbuka puasa bersama di Blok M. Yang mengundang Joe, yang gw hubungi Saloute, dan yang jadi CP Resta. Semuanya nama2 yang hanya gw tahu di milis aja, tanpa tahu seperti apa rupanya. Tapi, justru di sinilah serunya.

Jam 3 gw udah nyampe Blok M. Sengaja, sekalian jalan-jalan menikmati kerumunan orang2 yang sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Gw ternyata ikutan! (hehe…) Tapi jam udah teriak, woi, lewat setengah lima! Ya sudah, gw pergilah ke belakang loket busway, seperti yang dibilang Resta, bahwa kawan2 lainnya akan berkumpul di sana. Sampai di sana, jelas gak ada orang yang bawa papan nama seperti di bandara, juga gak ada pula yang berbaju Iwan Fals misalnya. Benar2 gak terdeteksi ada kumpul2 kawan2 milis.

Tapi, teknologi udah canggih. Gw SMS-lah Resta. Dibalas, katanya sebentar lagi akan dateng. Sambil menunggu bengong2 bego, isenglah berimajinasi seperti apa rupanya. Katanya dia cowok. Hm, mungkin berambut gondrong, atau gimbal bak anak rasta (namanya mirip, sih!)? Mungkin lebih tua sedikit dari gw, mungkin gayanya seperti anak muda kebanyakan. Lalu, HP gw berbunyi, ada telepon dari Resta. Dan akhirnya bertemulah gw dengan Resta, yang jauh dari imaji gw semula.

Resta tampak matang (untuk menggantikan istilah ‘tua’, hehe…), boro2 gondrong tapi justru botak, berkacamata tebal (kacanya, bukan gagangnya), berkaos dan berjins seperti biasa, dan serunya…menggandeng gadis kecil lucu. Sampai detik terakhir acara selesai, gw masih juga gak tahu siapa nama si kecil itu, yang ternyata adalah putri tersayang Resta. Jadi, kami bertiga. Resta sibuk menelepon kawan2 lainnya, sementara gw bersusah payah menggoda si kecil berkuncir kuda.

Udah lewat jam 5 tapi belum ada yang nongol juga. Beberapa nama yang diperkirakan akan dateng, iseng gw imajinasikan juga seperti apa wujudnya. Di Friendster, Dwi terlihat seperti gadis kecil periang dan ramah. Kira2 seperti itulah dugaan gw. Saloute usianya pasti jauh di atas gw, tampak serius dan sulit untuk bercanda. Joe, dari tulisan2nya, sih, keliatannya tipe orang penuh humor. Yang lain, gw belum tahu. Akhirnya satu persatu kawan2 datang. Ada Joko ‘Joe’ Sorjan, Dwi, Nday, Saloute, Eman, Firman, dan Lukman. Dan ternyata gak bertambah lagi, hanya itu saja! Tapi serunya, imaji gw benar 50% aja! Dwi ternyata terlihat dewasa sekali, tinggi, dan berpakaian rapi (habis pulang kerja juga). Gw tebak usianya 24. Oh, ternyata dia terbahak2, karena ternyata dia baru…20 tahun! Loh, justru lebih muda dari gw toh? Tapi bahwa dia periang dan ramah, tepat. Tepat pula tentang Joe, bahwa dia lucu, cukup pandai mencairkan suasana. Kalau Saloute lain lagi, dia gak sebesar yang gw duga (di foto beda, Mas! hehe…), mulanya terlihat pendiam, tapi ternyata ramai dan senang bercanda juga. Lucunya, dia menduga bahwa gw laki-laki, bahkan pernah dulu dia panggil gw dengan sapaan “mas”. Hahaha…

Adzan magrib, kami masih sibuk mencari tempat yang bisa diduduki bersepuluh. Ya, kami pergi ke basement, ke Warung Umat, yang ternyata benar2 disesaki berjuta umat! Ampun deh, kami harus bersabar dulu sebelum bisa duduk tenang, dan memesan makanan. Kami ngobrol apapun, tentang silaturahim ini, tentang virus yang pakai ID anggota milis, tentang rencana datang ke Reboan terakhir di Leuwinanggung, tentang rencana tour ke Taman Buah Mekarsari (ngerujak, gitu?), tentang rencana rahasia buat perkembangan milis ini ke depannya, dan cerita2 lainnya. Seru lah!

Bonusnya, Om Resta menambah kebahagiaan kami. Dia bayar semua pesanan makanan dan minuman kami! Dia tampaknya paham bgt bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk beramal (betul? ;p). Kami pun tak lupa berterima kasih dan berdoa, semoga putri kecilnya masih bisa punya baju lebaran baru! Hehe…

Setengah delapan malam. Kami berpisah di depan game center. Berfoto-foto gak ketinggalan pasti. Walaupun masih banyak kekurangan dari acara ini (kurang publikasi, publikasi mepet, tanpa order tempat, dll.), acara ini tetap banyak bermanfaat untuk menjalin silaturahmi antaranggota milis Iwan Fals. Sensasi hebat dari komunitas di dunia maya adalah kopi darat itu sendiri, bukan? Dan yang tak kalah hebat dan seru, ya bertemu orang2 baru itu!

:: damai kami sepanjang hari!

gairah malam pertama…

September 28th, 2006 by annarnellis

Gairah malam pertama udah mati. Jelas gak akan balik lagi. Yang pertama udah susah untuk terulang lagi. Ya, tampaknya itu pasti!

Malam tarawih pertama, semua tempat di masjid terdekat habis ditempati. Uh, mencari sedikit celah untuk bersujud pada Tuhan saja sulitnya setengah mati. Masjid benar-benar jauh dari kata sepi. Semua orang rela-relakan diri untuk bersuci. Tapi kini? Belum ada 7 hari, masjid mulai menjadi sunyi.

Seperti malam pertama bercinta, gairahnya benar-benar memuncak. Semua dilabrak. Seperti manusia gua yang tak pernah berjumpa manusia lainnya, semua ditabrak bak serudukan badak. Tapi, sekarang, hh…semua yang ada di dada terasa sesak.

Jadi, ketika gairah malam pertama mulai menghilang, yah…akhirnya aku harus terbiasa. Kalau orang lain lebih asyik dengan kolak atau pacar barunya, biarkan saja. Belajar menerima dengan biasa. Perlahan-lahan tak apa. Biasa menikmati sendiri. Karena ibadah atau bercinta hampir sama, hanya bisa dimaknai sendiri-sendiri.

Gairah malam pertama udah mati.

Tapi, aku gak boleh mati.

nothing

September 20th, 2006 by annarnellis

Apa sih yang udah gw kasih ke kawan-kawan sekitar gw? Rasanya kok gak ada! Orang lain percaya gw mampu, gw punya, dan gw bisa, tapi gw gak memperlihatkan kemampuan, kepunyaan, dan kebiasaan gw itu!

Kawan2 gw kecewa ketika gw jadi moderator di seminar Pram kemarin. Katanya pertanyaan2 yang gw ajukan pada pembicara gak tajam, padahal mereka tau gw bisa untuk melakukan itu. Ya, gw sadari hal itu. Kawan gw lainnya bilang, “lo kan tau banyak tentang Pram, seharusnya lo bisa kembangkan banyak hal”. Bahkan dosen gw bilang, “saya kecewa. kamu kan suka Pram, jadi seharusnya bisa lebih baik daripada kemarin itu!” Hhh, gw tau gw sama sekali belum maksimal. Tapi bolehkah gw minta permakluman karena kemarin adalah kali pertama gw jd moderator? Selain itu, kenapa mereka bisa bilang gw ’suka’ sama Pram? Semoga jangan hanya karena nama gw berasal dari karyanya, atau karena kebetulan gw tertarik melahap karya2 dia. Kalau memang benar2 suka, apa lantas gw harus mengetahui semua tentang Pram? Kawan gw bilang, “nah, makanya lo tanya kl emang banyak yang belum lo tau! Atau jangan2 karena lo udah banyak tau, lo jadi gak tanya2 lagi?” Ugh, gw salah!

Ya, semua itu adalah masukan supaya gw bisa lebih baik. Dan gw berterima kasih untuk itu. Ya, sifat jarang nanya gw emang harus dikikis dikit2, terutama untuk keperluan2 seperti itu.

Hmm, gw jd inget, dulu waktu pertama kali gw bertamu ke rumah Pram, bertemu muka dengannya, sama sekali gak ada niat untuk bertanya apapun. Kenapa? Entah! Memang gak ada pertanyaan terlintas di benak gw. Gw hanya menikmati ketuaannya, gerak-geriknya, dan celoteh kawan2 lain yang ribut bertanya. Bahkan ketika kawan2 lain rebutan untuk berfoto berdua Pram, gw gak bergerak sama sekali. Alhasil, gw gak punya kenang2an foto berdua dengan dia. Paling, berfoto ramai2 aja.

Trus, kali kedua gw bertemu Pram, di rumahnya di Utan Kayu, lagi2 gw gak memanfaatkan kesempatan untuk berbicara dengan dia. Gak tau! Mungkin orang2 akan anggap gw bodoh. Gila, lo Ne, kapan lagi??? Tapi, entah, gw cukup senang duduk di samping dia, melihat mukanya, dan kepulan asap rokoknya. Mungkin secara tak sadar, gw sengaja menempatkannya sebagai manusia biasa, yang kalau tak perlu2 amat gw tanya, ya gak usah dipaksa2.

Waktu ketemu Iwan Fals saat acara OI di rumah kawan gw juga begitu. Gw sendiri bingung, kenapa gw gak tergerak untuk bersalaman dengan dia. Gw cuma asik melihat dia dari jarak lumayan dekat, sambil bilang “udah tua, tetep ganteng aja, ya!” Yah, begitulah!

Kira2 gambarannya begitu. Gw gak mengidolakan mereka. Gw juga gak menguasai bahan2 tentang mereka. Tapi kalo orang2 merasa gw cukup banyak tau tentang mereka, yah, apa bisa dikata. Permintaan kawan2 gw mungkin sebetulnya sederhana aja, Ne, coba lo bagi pengetahuan lo tentang mereka pada orang lain!

Lalu, tiba2 gw tersadar, ya ampun, apa sih yang udah gw kasih ke mereka? Kenapa gw gak bisa memberi sesuatu ke sekitar gw dengan maksimal? Ternyata, karena gw kurang usaha gali otak gw sendiri!

Di sisi lain, gw justru nangis ketika ada seorang kawan perempuan yang dengan iseng memberi hadiah buat gw. Dua buah kalung yang cantik. Dan ini adalah kali kesekian dia memberi gw macam2 barang sebagai hadiah. Entah, gw merasa minder aja. Gw merasa gak pantes nerima itu semua. Apa sih yang udah gw kasih bat dia, sehingga dia begitu rela memberi gw bermacam2 barang yang gw suka? Gw gak merasa memberi apapun. I am nothing…

Huah, tulisan ini kacau dan membosankan sekali ya! Cuma cerita tentang kepesimisan orang yang merasa bukan apa2. Tau lah, gw merasa bukan apa2 aja sekarang…

doorman

September 20th, 2006 by annarnellis

hwahaha…

hari ini gw seneng bgt, bisa ngerasain dibukain pintu sama doorman2 keren di kampus!

1. Seno Gumira Ajidarma: yah, kebetulan ajah, pas gw sama kawan2 gw mau masuk ke ruang dosen, eh, pintu dibukain sama seorang pria berewokan nan gondrong, hidiyalahhh….mas Seno, loh!

2. Johnny The Gun: gw juga baru tau sih sm nih orang. Td pas peluncuran buku Mister Vital, dia bacain salah satu cerpennya Lilimunir. Keren! Dan lucunya,waktu gw mau ke luar ruangan untuk ke WC,dia bukain pintu buat gw! haha…

Hikmahnya: Sering2lah berdiri dekat pintu, siapa tahu Anda akan menemui doorman yang ganteng,keren,dan juga terkenal!

piss!

September 14th, 2006 by annarnellis

GW BENCI SIMALAKAMA!!!

Roca

September 7th, 2006 by annarnellis

Dua malam kemarin ini, gw beruntung bisa berkendara dengan bis kota. Menyusuri jalanan Jakarta di malam hari, rasanya seperti mendayung dengan tangan, lama sekali gak juga sampai. Tapi, kelelahan mendayung itu, terpulihkan oleh suara2 lantang para penyair jalanan yang mampir bersuara di bis kota yang gw naiki. Malam pertama, penyair yang asik bergumul dengan kata2 itu, adalah seorang bapak tua. Dia membawakan sajak Wiji Tukul. Malam kedua, penyair yang juga asik bergelinjang dengan kata2 itu, adalah seorang lelaki muda. Dia juga membawakan sajak Wiji Tukul.

Gw terpesona? Gak terlalu juga! Tapi, naluri memaksa gw untuk berkenalan dengan mereka. Tapi, malam pertama sudah terlewat begitu aja. Maka gw gak mau melewatkan malam kedua dengan begitu aja. Selesai si lelaki penyair itu berakasia—seperti katanya, diulang2 pula—gw mengajaknya minum kopi sebentar di warung manapun tempat kami turun nanti. Jadilah, larut malam itu gw berdua dengannya, nongkrong menyeruput kopi kental dan teh manis di warkop bawah jembatan penyeberangan UI.

Namanya Roca. Merasa punya kedekatan jiwa dengan Mas Wiji Tukul katanya. Gw memintanya bercerita, maka berceritalah dia. Tapi, sebelum ia bercerita, ia meminta jawaban gw, kenapa gw mau menegurnya. Gw katakan dengan sederhana, “ingin berkenalan saja, dengan kamu dan Mas Wiji.” Dia tersenyum, balas bicara, “ternyata masih ada orang yang peduli pada dia.”

Berceritalah Roca, tentang si penyair hilang itu, tentang sajak2nya yang menyerusuk jiwa, tentang pertemuan terakhir dengannya. Juga tentang kehidupannya berputar dengan roda bis kota, tentang keinginan orangtuanya yang ingin ia bekerja ‘biasa’, juga tentang harapan2nya.

Kemudian ia balas tanya, apa yang gw dapatkan di kuliah sastra. Berceritalah gw seadanya, lalu komentarnya, “jangan makan kurikulum saja!” Ahh, gw malu tiba2! Benar, gw sadari itu, bahwa yang gw jalani selama ini, mungkin hanya rutinitas memakan kurikulum aja, gak ada pemberontakan gw berkarya. Mana? Mana karya udah gw cipta? Gw bilang padanya, “aku malas, dan memang sebaiknya aku bunuh malas itu.” Tapi, dia bilang cepat2, “Jangan, jangan kamu bunuh malas itu. Hidupkan saja.” Katanya, malas pun bisa menghasilkan sesuatu, yang penting, jangan hanya lihat ke belakang saja, atau lihat ke depan saja. Dia sempat bertanya, kenapa gw gak kuliah sejarah aja, ternyata itulah maksudnya. Sering2lah lihat ke belakang, tapi jangan lupa lihat depan juga. Juga lihat kanan-kiri. Sementara itu, jangan tutup telinga, jangan tutup mata, katanya.

Sebuah tonjokan maha dahsyat! Selama ini gw dibutakan kurikulum, seperti yang disinggung Wiji Tukul dalam karyanya! Hanya makan akademis! Lupa, gak melihat bahwa ada sesuatu yang sama hebat di luar sana. Gw tiba2 teringat pertentangan yang selalu terjadi, antara kaum akademisi dan kaum otodidak. Di permukaan, dua kubu itu saling tersenyum manis, tapi tetap aja, ada sekam yang mungkin sengaja dipupuk supaya tetap membara. Oh, tidak, gw gak mau melebih2kan! Tapi, yang gw rasakan selama ini, begitulah yang terjadi.

Malam yang hebat. Gw harus lebih banyak berkenalan dengan Roca dan Roca2 lainnya. Orang2 jalanan yang tampak nyinyir di mata, tapi justru lebih hebat daripada diri kita. Penutup malam itu, gw minta padanya, pacu gw untuk gak hanya makan kuliahan. Dia mengangguk, dan tangannya mengibas sesuatu yang gak tampak di telinga dan matanya. Mengisyaratkan gw agar selalu membuka telinga dan mata.

maaf,,, (bagian2)

September 5th, 2006 by annarnellis

Jelas, Tuhan lebih hebat daripada kamus karena di usia gw yang begini muda, Ia telah menyuguhkan gw kehebatan makna kata ‘maaf’. Kata itu, dengan segala kata atau imbuhan yang dapat menyertainya, ternyata memberi luapan pelajaran untuk gw. Bukan seperti luapan lumpur Sidoarjo yang menyengsarakan rakyat, luapan ilmu maaf ini malah memberi berjuta manfaat.

Kemarin, seorang sahabat mendatangi gw dan kemudian berkisah dengan tersedu-sedu. Katanya, ia baru saja dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Katanya lagi, rasanya 1000 kali lebih sakit daripada dibohongi lelaki yang pernah disayanginya. Rasa sakit itu membuatnya gak mampu memberi maaf pada sahabatnya itu, meskipun sang sahabat sudah menghasilkan bertangki-tangki air mata.

Beberapa hari ini, dengan penuh kesadaran, gw menempati posisi sahabatnya sahabat gw itu. Dengan kasus yang berbeda, gw telah membuat kesalahan dan merasa telah menyakiti orang lain. Gak tanggung-tanggung, dua orang sekaligus! Kalau gw berkolaborasi dengan sahabatnya sahabat gw itu, gw bisa buat perusahaan air dengan persediaan tangki dalam jumlah banyak. Tapi, jelas gak akan laku terjual karena air itu asin sebab orang-orang menamainya air mata.

Dan memang, air mata kami gak laku untuk orang-orang yang tersakiti. Air mata gak akan bisa begitu aja mengubah kobaran api menjadi padam. Sakit hati itu seperti bara api di lahan gambut, yang gak mudah padam walau air menyiram-nyiram.

Maka yang harus dilakukan adalah mengakui kesalahan. Kalau perlu, buat pernyataan dosa jika memang akan melegakan. Dan gw lakukan itu. Dan sahabatnya sahabat gw pun lakukan itu. Semuanya jelas butuh keberanian. Gw pun memberani-beranikan, seperti anak kecil yang baru belajar naik sepeda. Siap terjatuh-jatuh dengan harapan nanti kan dapat mengayuh dengan gembira.

Setelah itu, tibalah waktunya tampil adegan utama. Sebuah dialog hebat diharapkan akan keluar. Tapi sebelumnya, gw harus bermonolog dengan satu kata: maaf. Mengemislah gw, meminta maaf. Dan seperti kenormalan manusia yang gak pernah merasa puas, gw meminta lawan main gw memberi kebebasan gw untuk berharap. Berharap dimaafkan, berharap jangan dibenci, berharap dapat tetap berkawan, dan berharap semua dapat kembali baik-baik aja. Ah, kurang ajar banget gw, ya? Banyak maunya!

Kalau sadar bahwa kurang ajar, seharusnya gw harus rela menerima jika orang-orang yang tersakiti itu ingin memberi gw hukuman. Seperti pengakuan sahabat gw itu, ia ingin memberi sedikit hukuman pada orang yang sudah menyakitinya. Caranya, yah…dengan mengulur-ulur pemberian maaf. Gw pun merasakan, itu adalah hukuman yang sangat menyiksa!

Kalau udah begitu, gw hanya bisa berharap, orang yang sakit karena gw itu akan ingat kata-kata Rasulullah. Kalau bertengkar, jangan lebih dari 3 hari. Segeralah berbaikan. Dasar, kalau begini aja, baru gw inget kata-kata Nabi!

Untungnya, gw sangat beruntung! Orang-orang objek penderita gw adalah orang-orang baik. Yang satu, dengan santainya memaafkan gw. Yang satu lagi, dengan agak rumit–meskipun dia bilang dengan mudahnya–juga memaafkan gw. Lalu gw, sebagai orang yang dimaafkan, benar-benar mendapatkan angin sepoy kala Depok panasnya 40 derajat celcius. Benar-benar menyegarkan…

Kuntowijoyo benar, orang itu bukan garam, maka jangan dianggap sama asinnya. Gw harus mengerti bahwa tiap orang punya gaya yang berbeda dalam meminta dan memberi maaf. Keduanya–meminta atau meberi–sama-sama sulit. Gw gak tau kadar pasti mana yang lebih sulit, kamus pun gak tau, cuma Tuhan yang tau. Tapi sesulit apapun itu, toh tetap harus dicoba.

Gw selalu ingin belajar apapun, juga belajar menjadi bijak. Belajar meminta maaf dan belajar memberi maaf. Semua memang berkait dengan waktu, tapi berlama-lama menahan maaf, tampaknya gak bijak juga. Gw tau betul rasanya, seperti: jam 12 malam dalam tubuh saya, seperti kata Malna. Seorang kawan baik gw membuktikan, saat dia memberi maaf, dia mendapatkan kelegaan. Sama seperti yang dirasakan orang yang menerima maaf itu.

Semoga, sahabat gw segera memberi maaf untuk sahabatnya. Dan kelak dia tak boleh menampik kata terima kasih, seperti yang juga gw ucapkan, karena dunia perkawanan sangat bersinar sebagai harta yang berharga!