Parodi Ongkos Angkot
Buat yang terbiasa naik angkot, pasti pernah mendapati situasi paksa-memaksa traktir ongkos. Seperti ini, suatu hari saya naik angkot dari Pasar Pal. Angkot lumayan penuh. Di samping saya duduk seorang ibu-ibu dengan barang belanjaannya yang memenuhi ruang. Tak seberapa lama, naik seorang ibu-ibu dengan barang belanjaan sebanyak ibu-ibu di samping saya itu. “Eh, Bu Anu, dari pasar, Bu?” tegur ibu-ibu yang duduk di samping saya. Ya jelas jawab ibu-ibu yang satunya lagi itu, “Eh, oh, iya, Bu Entu”. Lalu, ramailah angkot, walau suara hanya muncul dari dua orang ibu-ibu tadi. Lali, bu Entu akan segera turun, ia mengeluarkan recehan dari dalam dompetnya yang bertuliskan Tugu Mas.
“Udah, sama saya aja,” kata bu Anu, sambil tak bergerak sedikit pun.
“Ah, ini ada kok,” kata bu Entu, sambil tetap mencari duitnya yang tak ketemu2.
“Eh, udah, saya kan belakangan.”
“Ahh…udah, ini, situ sama saya aja,” kata bu Entu sambil menggenggam ongkos untuk 2 orang.
“Eh, gimana sih, ini sama saya aja,” kata bu Anu, sambil mencari dompet di sela himpitan plastik bayam dan kelapa muda.
“Ah, udah gak papa, biar duluan.”
“Eeeh, bener loh, sama saya aja. Aduh, ini mana ya?” sahut bu Anu yang makin kesulitan mencari dompet, susah diambil karena terjepit ikan asin.
“Udah lah, ini udah mau turun kok. Duluan ya, Bu. Salam loh buat bapaknya. Eh, kiri…kiri…Bang, iya stop, stop…”
“Ealah, aduh makasih loh Bu, aduh, stop Bang, ati-ati Bu…”
Dompet yang sudah berhasil diambil bu Anu sejak tadi, buru2 dimasukkan lagi ke dalam tas kresek hitamnya.
Tak berapa lama, bu Anu turun.
“Kiri bang, iya…sini, kiri!”
Sambil turun, “tadi udah, ya, Bang ongkosnya.”
Sang sopir hanya diam dan kembali menekan gas.
Kemarin, buat saya yang tidak terbiasa naik angkot bersama orang asing, kebetulan saya tidak menemui situasi paksa-memaksa traktir ongkos. Sore itu saya dan teman2 mengantar teman2 dari Korea untuk berbelanja ke Giant Cimanggis. Kami berdelapan di angkot, 4 orang Indonesia dan 4 orang Korea. Sebelum turun, kami teman2 Indonesia ini saling berpandangan, bertanya2 bagaimana bayar ongkos angkot ini, bayar masing2 atau kami bayarkan mereka juga. Kami pilih yang kedua. Hm, kami mengumpulkan 12 ribu rupiah, patungan dari uang pribadi kami yang tak seberapa. Melihat adegan kami sibuk menyatukan uang, mereka pun sibuk mengeluarkan dompet. Salah seorang dari orang Korea itu, Si Anu, mengeluarkan uang 50 ribu rupiah.
“Ah, berapa?”
“Dua belas ribu,” sahut teman saya.
“Ini,” kata Si Anu sambil menyodorkan uang itu.
“Tidak, tidak usah, kami saja yang membayar,” sahut teman saya lagi.
“Ahh, ini,” Si Anu kembali menyodorkan uangnya, sambil memelas.
“Dia orang kaya, haha…” kata teman Si Anu.
“Ah, tidak, tidak, dia orang kaya,” kata Si Anu membalas.
“Sudah, saya orang kaya,” kata teman saya, sambil nyengir memamerkan uang 12 ribu yang sudah terkumpul.
“Ahhh…ya,” sahut keempat orang Korea itu, serempak.
Hmm, kenapa ya, ada situasi paksa-memaksa traktir ongkos?
Apa orang Korea terbiasa dengan sigap menunaikan kewajibannya, segera mengeluarkan uang yang ia punya untuk membayar ongkos angkot?
Apa orang Indonesia terbiasa melakukan tipu muslihat, sibuk mencari2 dompet yang sebenarnya tak susah diraih, demi berlama2, sambil menanti tawaran traktir menguat?
Apa orang Korea memang dengan mudah dan lapang hati menerima kebaikan orang lain?
Apa orang Indonesia memang senang paksa-paksaan, atau sengaja pura2 dipaksa, maka jadinya menolak bantuan yang berbuntut panjang?
Apa orang Korea memang tidak biasa berbasa-basi untuk saling melempar2 kebaikan bantuan dari temannya?
Apa orang Indonesia senang berpura2 menolak bantuan dari orang lain walaupun sebenarnya dia pun ingin dibantu?
Hmm, kenapa ya, ada situasi paksa-memaksa traktir ongkos?
Ah, saya tak memaksa pembaca untuk menjawab kok! =D